27 November 2011

Bahaya Pornografi Untuk Generasi-Generasi Islam

 

Anak-anak merupakam amanah Allah. Untuk itu, seharusnya dijaga dan dididik sebaik-baiknya. Jangan biarkan moral dan akhlaknya teracuni pornografi yang sudah terbukti pengaruh buruknya.

Tak perlu repot mendefinisikan pornografi, bermain kata-kata untuk mencari celah kebolehannya. Dalam islam, mengumbar aurat, melukjiskan atau menceritakan hubungan intim adalah dilarang. Juga, sesuatu yang dapat membangkitkan gairah seksual sehingga memicu penyaluran bukan pada tempat yang di halalkan adalh hara. Sebab telah terbukti kerusakannya, tidak saja pada orang dewasa bahkan anak-anak.
Terdapat banyak bahaya yang ditimbulkan oleh pornografi, yang sifatnya secara berangsur-angsur dan bisa menyebabkan kecanduan. Seperti orang gemar minuman keras, lama-lama dia akan menjadi pecandu. Anak-anak juga demikian, semakin sering melihat hal-hal berbau pornografi, kemungkinan terjadi penyimpangan seksual atau kecanduan seks semakin besar.
Apalagi saat ini media elektronik dan media massa, semakin gencar menayangkannya. Kondisi semacam ini akan memperbesar bahaya potensial yang ada pada pornografi. Berikit ini, beberapa bahaya yang ditimbulkan oleh p[ornografi berdasarkan penelitian dan pengamatan di Negara yang mempelopori adanya seks bebas (free sex) yaitu Amerika.

1. Anak menjadi korban kekerasan seksual
Di Negara barat yang mempunyai akses internet lebih leluasa, para penghidap pedhophilia (orang yang senang melakukan hubungan seks terhadap anak-anak kecil) dan pemburu seks memanfaatkannya untuk mencari mangsa (anak-anak). Internet merupaka media yang terbukti nyata sebagai alat berguna bagi mereka. Semakin sering mereka mengakses pornografi lewat internet, semakin tinggi resiko melakukan apa yang dilihatnya, termasuk kekerasan seksual, perkosaan, dan pelecehan seksual terhadap anak.

2. Hubungan ponografi dengan perkosaan dan kekerasan seksual
Menurut salah satu penelitian, anak dibawah 14 tahun yang melihat pornografi, lebih banyak terlibat praktek penyimpangan seksual, terutama perkosaan. Sedikitnya labih dari sepertiga pelaku pelecehan seksual pada anak dan pemerkosaan dalam penelitian ini, mengaku melakukannya akibat melihat pornografi. Dari 53% pelaku itu dilaporkan menggunakan pornografi sebagai rangsangan untuk melakukan aksinya.
Kebiasaan mengkosumsi pornografi dapat menyebabkan ketidakpuasan terhadap bentuk pornografi yang lembut, sebaliknya semakin kuat ingin melihat materi-materi yang mengandung penyimpangan dan kekerasan seksual. Pornografi juga mempermudah pelecehan seksual terhadap anak dalam berbagai cara.

3. Pornografi menyebabkan penyakit seksual, hamil diluar nikah, dan kecanduan seks.
Semakin sering anak-anak melihat pornografi, “lembut” atau hal-hal yang mengandung penyimpangan seksual mereka akan mempelajari sebuah pesan yang sangat berbahaya dari pembuat pornografi, yaitu “ seks yang tak bertanggungjawab adalah boleh dan dibutuhkan “. Karena , pornografi mendorong ekspresi seksual tanpa tanggung jawab, hal ini akan membahayakan kesehatan anak. Salah satunya adalah terjadinya peningkatan secara terus menerus penyakit kelamin.

4. Pornografi mendorong anak melakukan tindakan seksual terhadap anak lain.
Anak-anak sering meniru apa yang dibaca, dilihat atau di dengar. Banyak penelitian mengemukakan bahwa pornografi dapat mendorong mereka melakukan tindakan seksual terhadap anak yang lebih muda, kecil dan lemah. Para ahli  di bidang kejahatan seksual terhadap anak menyatakan bahwa aktifitas seksual pada anak yang belum dewasa selalu memunculkan 2 kemungkinan pemicu : pengalaman dan melihat. Hal ini berarti bahwa anak-anak yang menyimpang secara seksual mungkin telah tercemar atau gampang melihat hal-hal seksual melalui pornografi.

5. Pornografi mempengaruhi pembentukan sikap, nilai dan perilaku.
Pesan-pesan yang tidak bertanggung jawab yang sangat kuat dari pornografi, bisa mengajari anak-anak tentang masalah-masalah seksual. Foto, video, majalah, game, dan situs internet yang berbau porno yang menggambarkan perkosaan dan tindakan tak berperikemanusiaan pada wanita dalam adegan seksual, menjadi alat perusak bagi pendidikan seks.
Berulang-ulang penelitian menunjukkan bahwa semakin banyak melihat bentuk-bentuk gambar pornografi, punya pengaruh dramatis pada pelakunya yaitu bagaimana mereka melihat wanita, kejahatan seksual, hubungan seksual, seks pada umunya.

6. Pornografi mengganggu jatidiri dan perkembangan anak.
Selama waktu kritis tertentu pada masa kanak-kanak, otak anak kecil telah terprogram tentang orientasi seksual . selama periode ini, pikiran tersebut terlihat membangun jaringan mengenahi apa yang merangsang atau menarik seseorang. Melihat norma-norma dan perilaku seksual yang sehat. Sebaliknya, jika melihat penyimpangan seksual bisa terpatri dalam otaknya dan menjadi bagian tetap dalam orientasi seksualnya.
Temuan-temuan psikolog Dr. Victor Cline menyatakan bahwa ingatan-ingatan dari pengalaman yang terjadi saat perasaaan terangsang (termasuk disini rangsangan seksual) di patri di otak oleh epinephrine, suatu hormone dalam glandula andrenalin, dan susah di hapus. Hal ini mungkin merupakan sebagian penjelasan tentang pengaruh candu pornografi. Melihat pornografi bisa membuat kondisi seseorang secara potensial mengulangi fantasi seksualnya sewaktu masturbasi.
7. Jadi berkurangnya perhatian pemerintah memberantas pornografi.
Meski ada tujuh dari sepuluh anak SD yang diteliti Yayasan Kita dan Buah Hati ternyata telah terpapar pornografi. Orang tua harus benar-benar menjaga buah hati, jangan sampai teracuni karena akibatnya fatal sekali. Bagaimana pencegahannya sejak dini? Apa pula yang harus dilakukan orang tua bila mendapati anaknya terpapar materi seksi? Temukan jawabannya dalam perbincangan wartawan Tabloid Media Umat Joko Prasetyo dengan psikolog senior Elly Risman Musa, Direktur Yayasan Kita dan Buah Hati. Berikut petikannya.

TMU : Betulkah sekarang sudah darurat pornografi?
ERM : Betul, ini darurat pornografi seperti yang sudah ditentukan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia beberapa waktu lalu.

TMU : Menurut Anda yang terkategori pornografi itu apa?
ERM : Jangan menurut saya dulu ya. Menurut penelitian di Amerika saja yang dikenal sebagai negara yang sangat liberal, jika anak melihat iklan pakaian dalam saja itu sudah porno. Apalagi sekarang anak sudah melihat bagaimana bersetubuh dan bagaimana melakukannya.

TMU : Apa dampaknya secara psikologis?
ERM : Ada gangguan di otaknya, tapi ini berproses, ada tahapan-tahapannya. Kalau bagian otak yang rusak yang bagian pengambilan keputusan rusak, merencanakan rusak, tidak bisa menunda kepuasan, tidak bisa bikin perencanaan, tidak tahu konsekuensi, gimana anak nanti?

TMU : Maksudnya?
ERM : Pornografi itu merusak otak dan otak yang dirusak itu sangat vital untuk mengambil keputusan, membuat perencanaan, tempat dibuatnya nilai-nilai, moral, dan lain sebagainya.

TMU : Gangguan otak di sebelah mana itu?
ERM : Ubun-ubun (preprontal cortex), bagian di otak yang berfungsi mengambil keputusan. Itu yang membedakan kita dengan binatang. Ya itulah efek pornografi sangat berbahaya lebih berbahaya daripada teror bom. Karena kecenderungan dan perilaku anak jadi rusak semuanya.

TMU : Kalau dibanding dengan narkoba?
ERM : Tetap lebih berbahaya pornografi karena kerusakan otaknya sampai lima bagian. Kalau narkoba tiga bagian saja.

TMU : Berapa banyak remaja yang terpapar pornografi?
ERM : Belum ada hitungan yang pasti.Tapi yang jelas sangat banyak. Banyak sekali. Bahkan sekarang sudah banyak sekali anak SD yang terpapar pornografi, kalau anak SMP atau SMA sudah tidak perlu ditanya lagi, anak SD saja sudah begitu, apalagi seniornya. Tahun lalu saja, berdasarkan temuan Yayasan Kita dan Buah Hati, sekitar 67 persen dari sekitar 2.800 anak kelas 4-6 SD sudah pernah melihat materi pornografi.

TMU : Lewat media apa saja mereka melihatnya?
ERM : Ya lewat media yang ada di sekitarnya, seperti komik, internet, game, film di televisi, majalah, koran dan hp.

TMU : Mereka korban industri pornografi?
ERM : Pastinya. Dalam buku The Drug of the New Millennium yang ditulis Mark B Kastleman diungkap bahwa film, VCD, dan komik porno dibuat secara berkala. Film-film tersebut dibuat dengan sangat murah dan menggunakan pemeran yang tidak dikenal. Kemudian dipasarkan di sini. Provider porno, situs porno, itu rapat setahun tiga kali, mengundang psikolog, memikirkan bagaimana marketingnya menyasar anak-anak yang belum baligh. Pornografi di internet, menurut Kastleman, memang benar-benar membuat perubahan otak dan perilaku anak secara radikal. Disadari atau tidak, anak dicuci otaknya. Ditanamkan keyakinan bahwa seks bebas itu menyenangkan. Seks bebas pun bisa menghasilkan uang. Kalau dibayar boleh disentuh, kalau bayarannya lebih besar boleh dicium, kalau bayarannya lebih besar lagi boleh ditiduri. Hal negatif dianggap positif. Emosi anak dibuat kacau.

TMU : Banyak anak ke warnet, apakah orang tuanya tidak mengetahui?
ERM : Kebanyakan memang begitu. Karena banyak orang tua yang tidak mengerti ketika anak-anaknya yang masih kecil-kecil itu meminta uang Rp 1.500, Rp 2.000. Anak-anak itu terus urunan dengan teman-temannya pergi ke warnet. Coba sekali-kali ke warnet, apa yang dilihat anak-anak?
Begitu juga televisi. Orang tuanya senang anaknya tenang di depan televisi padahal besar kemungkinan terekspos pada pornografi. Aduh itu sinetron remaja itu banyak adegan ciumannya. Begitu juga film kartun, banyak mengekspos pornografi.
Film kartun anak-anak saja, seperti Popeye dan Toni & Jerry tidak sepenuhnya aman, karena berbau pornografi dan kekerasan. Apalagi film yang dikategorikan film remaja. Jauh lebih parah! Dan lebih parahnya lagi orang tua menganggap nonton film-film seperti itu tidak berbahaya.
Karena anak-anak tidak ngerti, orang tuanya tidak mengontrol karena tidak mengerti juga, maka terjadilah kerusakan yang maha luas itu. Karena kita tidak paham maka mengalami sindrom epidemi kerusakan otak.

TMU : Apa tanda-tandanya bila anak terpapar pornografi?
ERM : Perasaannya tidak karuan ya, gelisah. Tapi sayangnya, orang tua juga tidak mengerti jika anaknya tiba-tiba suka marah-marah dan uring-uringan.

TMU : Mengapa bisa begitu?
ERM : Ada hormon-hormon kenikmatan yang keluar dan berbagai hormon lainnya berlebihan keluarnya, karena si anak harus berkonsentrasi merasakan kenikmatan yang dirasakannya. Maka, dengan sendirinya otak anak akan menciut. Tidak sabar lagi ingin merasakan sensasi kenikmatan, bahkan dengan dosis yang lebih.

TMU : Bagaimana upaya pemerintah untuk mengatasi itu ?
ERM : Ya, setengah hati, tidak terlalu serius. Menurut saya, Indonesia terlalu sibuk dengan masalah lain, repot. Padahal untuk teroris saja yang angka korbannya jauh di bawah korban pornografi ada Densus 88-nya. Untuk narkoba yang merusak tiga bagian otak ada Badan Narkotika Nasional. Tapi buat pornografi? Padahal bagian otak yang dirusaknya jauh lebih banyak pornografi.

TMU : Bila orang tua mendapati anaknya terpapar materi pornografi?
ERM : Tidak perlu marah-marah. Buat anak sadar bahwa itu berbahaya. Bujuk agar si anak tidak melihatnya Iagi. Terapi dengan sabar, ingatkan si anak bahwa Allah SWT selalu melihat. Bina terus keimanannya. Untuk mengobatinya, tidak bisa tidak memang harus dengan membina keimanan.
Ingat, baik anak maupun orang dewasa yang kecanduan pornografi itu sejatinya telah melanggar perintah Allah SWT. Dalam Al quran Allah dengan tegas mengatakan jaga pandanganmu dan jaga kemaluanmu. Baik anak maupun orang dewasa yang kecanduan pornografi otomatis telah melanggar perintah Allah. Perintah itu tidak boleh dilanggar. Karena konsekuensinya sangat berat di akhirat.
Sebenarnya membina keimanan itujangan menunggu anak terpapar pornografi dulu. Jangan lupa tanamkan pula di benak anak, teknologi itu penting, dan jangan sampai gaptek. Tapi anak pun harus dipahamkan bahwa teknologi seperti hp, internet itu di samping bermanfaat, ada juga mudharatnya.
Jadi terangkan kepada anak dengan bijak, apa saja yang boleh dan apa saja yang tidak boleh dilakukan dengan teknologi tersebut. Anak harus bisa memelihara pandangan. Anak harus tahu hukuman dan akibat dari membuka hal tersebut. Jadi, harus dibina sebelum anak kecanduan, sebab, jika sudah kena, maka susah sekali. Karena memang mencegah lebih baik daripada mengobati.

TMU : Bagaimana orang tua mencegah anaknya terpapar pornografi?
ERM : Orang tua harus tahu dulu, kebanyakan orangtua tidak tahu apa yang terjadi. Dia kasih anaknya hp, internet, tapi dianya juga tidak bisa menggunakan. Jadi orangtua harus melek teknologi dulu. Datanglah ke warnet, lihat anak-anak itu sedang ngapain, orang tua harus tahu juga. Jadi bagaimana ngelarang sementara orang tua tidak tahu. Para ustadz harus mengerti juga, anak-anak harus dibina.

Keterangan:
TMU = Tabloid Media Umat
ERM = Elly Risman Musa
[Source : http://alwardah.wordpress.com & http://www.hendriono.web.id]

Tanggapan Pembaca:

Tulisan Lainnya