Reseller hosting
Tampilkan postingan dengan label Kompasiana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kompasiana. Tampilkan semua postingan

25 Desember 2012

Antara Gratifikasi dan Hadiah


Bagi sebagian orang mungkin sudah mengetahui apa yang dimaksud dengan kata Gratifikasi. Tapi Saya lebih senang menafsirkan kata tersebut dengan kata yang mendefinisikan sesuatu yang berarti “gratis di kasih”. 
Gratifikasi menurut kamus hukum berasal dari Bahasa Belanda, “Gratificatie” , atau Bahasa Inggrisnya “Gratification“ yang diartikan hadiah uang.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI,1998) Gratifikasi diartikan pemberian hadiah uang kepada pegawai di luar gaji yang telah ditentukan.
Menurut UU No.31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Penjelasan Pasal 12 b ayat (1), Gratifikasi adalah Pemberian dalam arti luas, yakni meliputi pemberian uang, barang, rabat (discount), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya.
Gratifikasi tersebut baik yang diterima di dalam negeri maupun di luar negeri dan yang dilakukan dengan menggunakan sarana elektronik atau tanpa sarana elektronik.
Ada beberapa contoh penerimaan gratifikasi, diantaranya yakni:
  • Seorang pejabat negara menerima “uang terima kasih” dari pemenang lelang;
  • Suami/Istri/anak pejabat memperoleh voucher belanja dan tiket tamasya ke luar negeri dari mitra bisnis istrinya/suaminya;
  • Seorang pejabat yang baru diangkat memperoleh mobil sebagai tanda perkenalan dari pelaku usaha di wilayahnya;
  • Seorang petugas perijinan memperoleh uang “terima kasih” dari pemohon ijin yang sudah dilayani.
  • Pemberian bantuan fasilitas kepada pejabat Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif tertentu, seperti: Bantuan Perjalanan + penginapan, Honor-honor yang tinggi kepada pejabat-pejabat walaupun dituangkan dalam SK yang resmi), Memberikan fasilitas Olah Raga (misal, Golf, dll); Memberikan hadiah pada event-event tertentu (misal, bingkisan hari raya, pernikahan, khitanan, dll).
Pemberian gratifikasi tersebut umumnya banyak memanfaatkan momen-momen ataupun peristawa-peristiwa yang cukup baik, seperti : Pada hari-hari besar keagamaan (hadiah hari raya tertentu), hadiah perkawinan, hari ulang tahun, keuntungan bisnis, dan pengaruh jabatan. Dengan berdalih “sekedar bantuan”, “ikhlas”, “tanpa pamrih”, “rasa simpatik”, dll, gratifikasi ini memang sangat mudah untuk disamarkan dan dibalut cantik dengan hal-hal demikian. Hingga pada akhirnya terucap kata “terima kasih karena sudah dibantu”, “lumayan gratis di kasih..”

Hadiah adalah pemberian seseorang kepada orang lain sebagai penghargaan atau penghormatan terhadap sesuatu yang telah dilakukannya. Biasanya hadiah merupakan pemberian terhadap prestasi dan keberhasilan seseorang.
A. Esensi Hadiah
Memahami hadiah sebagai salah satu cara untuk menyatukan hati antara pemberi dan penerima dapat dilihat dalam beberapa riwayat sebagai pedoman, dari perintah memberi hadiah, prioritas penerima hadiah dan larangan mengaburkan pemahaman antara hadiah dengan upah. Pemahaman tentang esensi hadiah sangat penting dalam rangka memberikan pemahaman yang benar tentang hadiah, sehingga tidak bias antara hadiah dengan bisnis yang profit oriented.
1. Perintah Memberi Hadiah
Salah satu uslub yang digunakan Rasul dalam membudayakan saling memberi hadiah adalah dengan perintah memberi hadiah. Perintah akan dilaksanakan jika diiringi dengan penjelasan kemungkinan gagalnya perintah. Hal itu terlihat dalam sabda Rasul berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ قَالَ تَهَادَوْا فَإِنَّ الْهَدِيَّةَ تُذْهِبُ وَحَرَ الصَّدْرِ وَلا تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا وَلَوْ شِقَّ فِرْسِنِ شَاةٍ
Artinya: Dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda: Saling memberi hadiahlah kamu, karena hadiah itu dapat menghilangkan perasaan tidak enak di hati. Janganlah seseorang merasa tidak enak ketika memberi hadiah dengan sesuatu yang tidak berharga. (H.R. al-Bukhari, Muslim dan al-Turmuzi, kitab wala’ no.2056)
Dalam Hadis tersebut Rasulullah berpesan agar umat Islam saling memberi hadiah. Tidak ada alasan untuk tidak memberi hadiah, karena dalam hadiah yang terpenting adalah nilai tanda kasih antara pemberi dan penerima. Sehingga jenis, kualitas atau harga barang yang akan dihadiahkan tidak menjadi terlalu penting. Frase وَلَوْ شِقَّ فِرْسِنِ شَاةٍ (analog mengenai sesuatu yang kecil dan tidak memberatkan), sehingga semua orang dapat saling memberi hadiah kepada yang lain.
Dalam riwayat lain terdapat perintah saling memberi hadiah, sabda Rasul: "saling memberi hadiahlah kamu niscaya kamu akan saling menyayangi"( Sunan al-Baihaqi, juz 6, h. 169) . Dalam konteks ini, hadiah merupakan salah satu cara untuk menumbuhkan rasa saling menyayangi.
2. Prioritas Orang yang akan diberi hadiah
Pemberian hadiah bertujuan untuk merajut rasa saling menyayangi. Untuk mencapai tujuan itu, ada prioritas dalam penentuan penerima hadiah. Sabda Rasul, yang merupakan dialog antara Rasul dengan ummul mukminin 'Aisyah, di bawah ini dapat dijadikan acuan:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي جَارَيْنِ فَإِلَى أَيِّهِمَا أُهْدِي قَالَ إِلَى أَقْرَبِهِمَا مِنْكِ بَابًا
Artinya:'Aisyah menyatakan saya menyatakan kepada Rasul Saw bahwa saya mempunyai 2 orang tetangga, maka kepada siapa diaantara keduanya yang saya beri hadiah? Rasul menjawab: Berilah hadiahmu kepada tetangga yang paling dekat rumahnya denganmu (H.R. Al-Bukhari kitab hibah no. 2405, Abu Daud, kitab adab no. 4488. dan Ahmad bin Hanbal)
Keinginan untuk memberi hadiah kepada seseorang, dapat saja dipengaruhi oleh beberapa hal, misalnya karena kedekatan emosional, kedekatan hubungan kekeluargaan dan kedekatan tempat tinggal. Ketika ditemukan kesulitan untuk menentukan penerima hadiah, maka pesan Rasul menjadi sangat penting.

B. Sikap Penerima hadiah

Hadiah yang diberikan seseorang mempunyai makna yang dalam dan hanya pemberi yang mengetahui tujuan pemberian hadiah dimaksud. Harus ada ketajaman instink untuk mendeteksi atau meidentifikasi hadiah sebagai hadiah murni atau sebagai sesuatu yang patut diduga ada kaitannya dengan jabatan yang sedang diemban.
Penerima hadiah juga dipesankan Rasul agar reaktif ketika menerima hadiah. Ketika menerima hadiah ada tindakan yang menunjukkan respons terhadap perlakuan yang diterima. Tidak diam saja dengan maksimal ucapan terima kasih. Keberimbangan aturan ini menunjukkan bahwa ada sesuatu dibalik aturan tersebut "agar tidak berhutang budi"

1. Mengidentifikasi hadiah

Untuk menghindari misinterpretasi tentang hadiah dan biasanya antara hadiah dengan sogokan, seperti yang dinyatakan oleh Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, bahwa di masa Rasulullah Saw. hadiah adalah hadiah, tetapi masa ini hadiah bisa saja berarti sogokan. (al- Bukhari, op.cit., h. 991) Serta untuk membedakan antara hadiah dengan tukar menukar, maka perlu diketahui bagaimana aturan Islam tentang hadiah dapat dilihat dalam hadis berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أُتِيَ بِطَعَامٍ سَأَلَ عَنْهُ أَهَدِيَّةٌ أَمْ صَدَقَةٌ فَإِنْ قِيلَ صَدَقَةٌ قَالَ لأَصْحَابِهِ كُلُوا وَلَمْ يَأْكُلْ وَإِنْ قِيلَ هَدِيَّةٌ ضَرَبَ بِيَدِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَكَلَ مَعَهُمْ
Abu Hurairah menyataka bahwa Rasulullah apabila diberi makanan, beliau selalu menanyakan kepada si pemberi hadiah apakah pemberian itu hadiah atau sedekah. Jika pemberian itu sedekah, Rasul tidak memakannya dan menyuruh para sahabat untuk memakan hadiah dimaksud. Jika dinyatakan pemberian itu adalah hadiah, Rasulullah menepukkan tangannya dan makan bersama sahabat. (al-Bukhari, kitab hibah no. 2388, juz 2, h. 984, Muslim, zakat no. 1790, al-Turmuzi, kitab zakat, no. 592, al-Nasa'i , kitab zakat no. 2566)
Ketentuan dalam hadis di atas memberikan aturan agar penerima hadiah tidak hanya bahagia atau senang dengan hadiah yang bakal diterima, akan tetapi selalu mengidentifikasi hadiah yang diserahkan, termasuk yang boleh diterima atau tidak. Bagi kita saat ini, kekuatan identifikasi ini merupakan salah satu yang sangat urgen untuk dilakukan, karena hadiah dapat saja berubah wajah sebagai jebakan. Jika pada Rasul upaya itu dilakukan dalam rangka membedakan sedekah dengan hadiah, maka saat ini identifikasi hadiah ini untuk membedakan antara suap/risywah/uang pelicin dengan hadiah.
2. Menerima Hadiah
Niat baik seseorang memberi hadiah kepada orang yang diinginkannya, disambut baik dengan adanya perintah menerima hadiah. Tentu saja hadiah yang murni hadiah, dan tidak ada indikasi hadiah tersebut mengandung suatu maksud mengarah pada penyelewenang. Pada bahasan ini, perimbangan aturan tersebut dapat dilihat dalam pesan Rasul berikut ini:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ … وَلَوْ أُهْدِيَ إِلَيَّ ذِرَاعٌ أَوْ كُرَاعٌ لَقَبِلْتُ
Artinya: Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw. bersabda: … kalau saya diberi hadiah zira' atau kira' (gambaran sesuatu yang kurang berharga/tidak bernilai), sungguh aku akan terima. (al-Bukhari, kitab hibah, no. 2380)
Pesan ini memberikan arahan bagi orang yang diberi hadiah agar tidak melihat harga, jenis atau nilai sesuatu yang dihadiahkan. Menerima atau tidak hadiah tidak didasarakan karena alasan harganya mahal atau murah, kualitasnya baik atau tidak baik, atau menarik atau tidak begitu menarik. Kata " ذِرَاعٌ " dalam hadis, adalah simbol sesuatu yang tidak banyak manfaatnya. Karena jika hadiah tersebut diiabaratkan daging, maka pemberian zira' itu tulang kaki yang sedikit sekali dagingnya. Begitu juga dengan kata كُرَاعٌ (jika pada maanusia :tumit) yang mungkin sangat sedikit sekali dagingnya.
Adanya pernyataan Rasul bahwa beliau menerima sesuatu hadiah meski pun kecil nilainya, menunjukkan bahwa dalam pemberian hadiah yang penting adalah maksud baik, ketulusan hati dan niat baik memberi hadiah. Kalaupun ada alasan untuk menerima atau tidak hadiah yang diberikan seseorang, penerima hadiah hanya perlu hati-hati adanya indikasi bahwa hadiah tersebut hanya berkedok hadiah, sementara yang sebenarnya bukan hadiah, mungkin sogokan, suap, jebakan dan sejenisnya.
3. Memberikan balasan Atas Hadiah Yang Diterima
Perintah memberi hadiah disampaikan dengan menggunakan shigat musyarakat (saling) bukan hanya sebagai penerima, tetapi di samping menerima juga memberi. Konsistensi aturan tersebut terlihat dari contoh yang dilakukan oleh Rasulullah dalam hadis berikut:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْبَلُ الْهَدِيَّةَ وَيُثِيبُ عَلَيْهَ ا
Artinya: Dari ‘Aisyah, Rasulullah Saw. menerima hadiah dan Rasul selalu memberikan balasan kepada pemberi hadiah (al- Bukhari,ibid., h. 988, Abu Daud, op.cit, h. 290).
Dalam hadis, Rasulullah Saw. mempunyai posisi sebagai penerima hadiah yang diberikan oleh seseorang. Kebiasaan Rasul selalu membiasakan dirinya ketika menerima hadiah, dengan memberikan balasan yang sama dengan hadiah yang diterimanya.
Menurut Abu Syaibah, Rasul malah membalas dengan yang lebih baik dari hadiah yang diterimanya.( al-Kahlani,., h. 90) Dilihat dari hadis tersebut di atas, sepertinya Rasul mewajibkan dirinya untuk selalu memberikan balasan terhadap hadiah yang diterimanya. Namun, itu tidak menunjukkan bahwa memberikan balasan dari hadiah yang diterima merupakan suatu yang wajib dilakukan, karena meskipun Rasul melakukannya terus menerus, itu disebabkan oleh kemuliaan akhlak Rasul. Yang dimaksud dengan يثيب عليها dalam hadis adalah orang yang menerima hadiah menggantinya minimal sesuai/seharga dengan hadiah tersebut.( al-Syaukani, h. 103) Dalam teladan yang dicontohkan oleh Rasul ada rahasia yang terkandung di dalamnya. Pemberian hadiah dari rakyat kepada pemimpin atau pejabat merupakan suatu wujud dari rasa kasih sayang antara pemimpin dan yang dipimpin.
Untuk saat ini, rasanya apa yang dilakukan oleh Rasul dapat dijadikan contoh oleh para penguasa atau pemimpin agama dalam merespons pemberian hadiah kepadanya. Dari hadis di atas, kita dapat memperhatikan perbedaan pendapat para fuqaha’ (dalam al-Kahlani, op.cit., h. 91, bandingkan dengan al-Syaukani, ibid., h. 103) di bawah ini:
1. Pendapat Hadawiyah : wajib memberikan yang sama nilainya dengan hadiah yang diterima, sesuai dengan kebiasaan, karena asal pada benda adalah pertukaran.
2. Menurut Yahya: jika yang diberikan berbentuk barang maka dengan barang yang sepertinya dan jika dengan harga, maka yang seharga dengannya.
3. Syafi’i dalam qaul jadidnya berpendapat: bahwa pemberian yang mengharapkan balasan adalah batal dan tidak terjadi, karena itu sama dengan jual beli dengan harga yang tidak jelas.
4. Sebagian golongan Malikiyah berpendapat: wajib memberikan balasan terhadap pemberian yang diterima, jika si pemberi tidak menyatakan apa-apa. Atau dalam kondisi si pemberi memang meminta balasan yang setimpal, seperti pemberian dari orang miskin kepada orang kaya, tidak sebaliknya (pemberian dari orang kaya kepada yang miskin, penerima tidak perlu membalas)
Apabila pemberi tidak rela dengan balasan yang diberikan, maka:
1. Suatu pendapat: harus memberikan balasan seharga pemberian yang diberikan kepadanya.
2. Pendapat lain: tidak harus seharganya, tetapi sesuai dengan yang diinginkan oleh pemberi.
Agar hadiah tetap dalam esensinya, meskipun ada anjuran dan contoh dari Rasul untuk memberikan balasan, hadiah seharusnya tidak berubah menjadi tukar menukar atau jual beli dengan bentuk barter. Pemberian balasan terhadap hadiah yang diterima telah dipesankan oleh Rasulullah, agar sesuai dengan kemampuan yang ada pada penerima hadiah, bukan sesuai dengan keinginan pemberi hadiah. Dalam pasan Rasul pada hadis di bawah ini, terlihat kesalahan pemahaman pemberi hadiah yang mengharapkan balasan dari penerima. Bahkan ada indikasi pemaksaan besaran balasan sesuai dengan keinginan pemberi.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ أَهْدَى رَجُلٌ مِنْ بَنِي فَزَارَةَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَاقَةً مِنْ إِبِلِهِ الَّتِي كَانُوا أَصَابُوا بِالْغَابَةِ فَعَوَّضَهُ مِنْهَا بَعْضَ الْعِوَضِ فَتَسَخَّطَهُ فَسَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى هَذَا الْمِنْبَرِ يَقُولُ إِنَّ رِجَالا مِنَ الْعَرَبِ يُهْدِي أَحَدُهُمُ الْهَدِيَّةَ فَأُعَوِّضُهُ مِنْهَا بِقَدْرِ مَا عِنْدِي ثُمَّ يَتَسَخَّطُهُ فَيَظَلُّ يَتَسَخَّطُ عَلَيَّ وَايْمُ اللَّهِ لا أَقْبَلُ بَعْدَ مَقَامِي هَذَا مِنْ رَجُلٍ مِنَ الْعَرَبِ هَدِيَّةً إِلا مِنْ قُرَشِيٍّ أَوْ أَنْصَارِيٍّ أَوْ ثَقَفِيٍّ أَوْ دَوْسِيٍّ
Artinya: Ada orang memberikan hadiah kepada Rasul kemudian Rasul membalasnya dengan separoh harganya, orang itu marah kemudian Rasul menyatakan tidak akan menerima hadiah dari orang tersebut dan dari sukunya . (H.R. al-Turmuzi, kitab manaqib no. 3881, Abu Daud , kitab buyu' no. 3070)
Pada hadis di atas, Rasul menceritakan pengalamannya ketika menerima hadiah dari salah seorang bangsa Arab. Ketika Rasul memberikan balasan dari hadiah yang diterimanya dengan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan pemberi, orang tersebut marah. Kemudian Rasul meberikan balasan sesuai dengan keinginan orang tersebut. Namun, dengan kejadian itu Rasul memutuskan untuk tidak menerima hadiah dari suku tersebut.
Tindakan pemberi hadiah yang memaksakan harus mendapatkan balasan sesuai dengan keinginan dan harapannya dapat dijadikan alasan untuk menolak hadiah yang diberikan. Pemaksaan akan menimbulkan tidak saling rela, akan muncul rasa kesal dan tidak senang, sehingga keluar dari tujuan hadiah untuk menimbulkan rasa simpati yang berbuah pada rasa sayang.

4. Tidak Menolak Hadiah, kecuali dengan Alasan

Pemberian yang murni hadiah harus diterima, sementara hadiah yang bias dengan riba, jual beli atau barter harus dijadikan alasan untuk menolak hadiah. Hadis Rasul berikut dapat dijadikan pegangan ketika menerima hadiah.
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا أَرَادَتْ أَنْ تَشْتَرِيَ بَرِيرَةَ فَأَرَادَ مَوَالِيهَا أَنْ يَشْتَرِطُوا وَلاءَهَا فَذَكَرَتْ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ اشْتَرِيهَا فَإِنَّمَا الْوَلاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ فَاشْتَرَتْهَا فَأَعْتَقَتْهَا وَخَيَّرَهَا مِنْ زَوْجِهَا وَكَانَ حُرًّا وَأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُتِيَ بِلَحْمٍ فَقَالَ مِنْ أَيْنَ هَذَا قِيلَ تُصُدِّقَ بِهِ عَلَى بَرِيرَةَ فَقَالَ هُوَ لَهَا صَدَقَةٌ وَلَنَا هَدِيَّة ٌ
Artinya: Ketika 'Aisyah bermaksud membeli Barirah, lalu maulanya menginginkan wala' nya, lalu 'Aisyah menyampaikannya kepada Rasulullah, Rasul menyuruh untuk membelinya. Rasul juga menjelaskan bahwa wala' itu adalah hak orang yang memerdekakannya. 'Aisyah membelinya dan memerdekakannya dan memberikan pilihan kepada suaminya. Akhirnya ia menjadi wanita merdeka. Ketika Rasul diberi daging, beliau menanyakan dari pemberian siapa ?, dijelaskan bahwa itu sedekah dari Barirah. Rasul kemudian menjelaskan daging itu sedekah untuk Barirah, tapi hadiah untuk Rasul dan keluarganya. (al-Bukhari , kitab zakat no. 1398, Muslim, kitab zakat, no. 1787, 1788, al-Darimi, kitab al-thalaq, no. 2187, al-Nasa'i kitab talaq no. 2188, 3393, 3394, 3396, 3399, 3400, buyu no. 4564, Malik, kitab al-thalaq no. 1038,)
Atas semua itu, ada distingsi yang dibuat oleh Rasul ketika menerima hadiah atau sedekah. Ketika tidak ada alasan yang mengharuskan beliau menolak suatu pemberian, maka beliau menerimanya sebagai hadiah. Rasul memang tidak diperbolehkan menerima sedekah. Kejujuran dalam mengemukakan alasan ketika menolak hadiah merupakan salah satu sifat terpuji yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Setiap aktivitas keseharian umat Islam harus dilandasi oleh kejujuran, baik terhadap diri sendiri atau terhadap orang lain.
Berlaku jujur akan berimplikasi positif dalam semua tingkah laku dan sikap seseorang dan akan dapat menenangkan gejolak yang muncul di tengah-tengah masyarakat. Dengan kejujuran akan membuahkan transparansi dalam berbagai hal . Sehingga tidak akan memunculkan anggapan negatif atau adanya sikap menduga-duga bagi orang lain. Hal itu dapat dilihat dari ungkapan Rasulullah saw. berikut:
عَنْ عَبْدِاللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ عَنِ الصَّعْبِ بْنِ جَثَّامَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهُمْ أَنَّهُ أَهْدَى لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِمَارًا وَحْشِيًّا وَهُوَ بِالأَبْوَاءِ أَوْ بِوَدَّانَ فَرَدَّ عَلَيْهِ فَلَمَّا رَأَى مَا فِي وَجْهِهِ قَالَ أَمَا إِنَّا لَمْ نَرُدَّهُ عَلَيْكَ إِلا أَنَّا حُرُمٌ
Artinya: Abdullah bin ‘Abbas dari al-Sha’ab bin Jassamah ketika ia menghadiahkan keledai kepada Rasul, lalu Rasul menolak pemberiannya. Ketika Rasul melihat kekecewaan diwajah Sha’ab, Rasul mengatakan: “sesunggungnya kami tidak menolak hadiahmu, melainkan saya sedang ihram tidak bisa menerima hadiah itu”
( al- Bukhari, Muslim, al-Turmuzi, al-Nasa'i, Ibnu Majah, Malik, al-Muwaththa’ Malik, , Beirut, Dar al-Fikr, al-Darimi,)
Hadis di atas, menyatakan Rasul sangat tanggap dengan perubahan di wajah sahabatnya mengemukakan alasan peneolakan tersebut. Jawaban yang jelas dan taransparan tersebut dapat mendatangkan perasaan lega dan kecewa dan dapat menghilangkan persepsi keliru karena atas dasar menduga-duga sahabat tersebut.

Referensi :
jeffersonsh.blogspot.com/2011/10/apa-itu-gratifikasi.html
enizar-stain.blogspot.com/2009/05/pemberipenerima-hadiah.html

Perawat Berdakwah (obat) Melalui Murottal


Berdasarkan data Depkes RI diketahui 10 penyebab kematian terbanyak penyakit tidak menular sebagai berikut stroke (4,87%), perdarahan intrakranial (3,71%), septisemia (3,18%), gagal ginjal (3,16%), jantung (2,67%), diabetes melitus (2,16%), hipoksia intrauterus (1,95%), radang susunan saraf (1,86%), gagal jantung (1,77%) dan hipertensi (1,62%) (Depkes RI, 2007). Berdasarkan estimasi Badan Kesehatan Dunia (WHO), secara global lebih dari 500 juta orang mengalami penyakit gagal ginjal kronik. Sekitar 1,5 juta orang harus menjalani hidup bergantung pada cuci darah. Sementara itu, di Indonesia, saat ini terdapat sekitar 70.000 penderita gagal ginjal kronik yang memerlukan cuci darah (Siswono, 2008). Kasus gagal ginjal di Jawa Tengah yang tertinggi adalah kota Surakarta 1497 kasus (25.22 %) dan yang kedua adalah Kabupaten Sukoharjo yaitu 742 kasus (12.50 %) (Dinkes Jateng, 2008).

Tindakan keperawatan untuk menangani masalah kecemasan pasien dapat berupa tindakan mandiri oleh perawat seperti tehnik relaksasi dan distraksi (Potter, 2005). Salah satu teknik distraksi yang digunakan untuk mengatasi kecemasan pada pasien adalah dengan murottal (mendengarkan bacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an), karena tehnik distraksi merupakan tindakan untuk mengalihkan perhatian seperti mendengarkan musik dan murottal (mendengarkan bacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an).

Dia menyarankan untuk memperdengarkan murottal Al-quran kepada setiap pasien rumah sakit. Dia bisa hapal surat-surat, minimal yang ada di Juz ‘Amma meskipun tidak menghapalkannya. Ketika suatu surat mulai dibacakan oleh orang lain, pasien dengan lancar bisa melanjutkan surat itu. Itu dikarenakan perawatnya selalu memasang tape murottal Al-Quran walaupun pasien itu sedang keadaan tertidur. Ternyata alam bawah sadar dirinya, mampu menyaring itu.

Mendengarkan murottal Al-Quran banyak sekali manfaatnya. Bacaan ayat Al-Quran yang merdu mempunyai gelombang yang sama dengan musik klasik Mozart, sehingga bisa menimbulkan relaksasi pada tubuh. Tentunya relaksasi itu bisa menjadi obat dari pada berbagai macam penyakit yang diderita oleh setiap pasien rumah sakit. Manfaatnya akan lebih terasa karena perawat tersebut sudah ikut berkontribusi dalam berdakwah dan mengajarkan Al-Quran kepada setiap pasiennya.

24 Desember 2012

Rektor Harvard Berbicara Masalah Skandal Contek Massal

Rektor Harvard University Drew Faust menyatakan, para atlet bukanlah satu-satunya pihak yang harus disalahkan dalam skandal mencontek terbesar sepanjang sejarah Harvard. Namun, mereka juga tidak boleh diperlakukan berbeda dalam penyelidikan.
rektor harvard -elearning unimed
"Hal ini bukanlah tentang kelompok siswa. Perkara ini juga tidak terbatas pada kelompok siswa tertentu," kata Faust kepada Associated Press, seperti dilansir Huffington Post,Minggu (16/9/2012).

Dalam wawancara perdananya dengan media setelah pihak kampus menemukan bahwa 125 mahasiswa dalam satu kelas dicurigai telah berbagi jawaban dalam sebuah ujian tersebut, Fraust menyatakan, kecurigaan ini telah mengenai inti dari nilai yang sangat berharga bagi Harvard.

Bulan lalu, Harvard mengumumkan bahwa penyelidikan atas kesamaan jawaban ujian di antara lebih dari 100 mahasiswanya sedang berlangsung. Insiden ini terjadi pada ujian akhir semester yang bersifat buka buku dan bawa pulang (take home). Hukum federal melarang sekolah untuk mengidentifikasi siswa yang terlibat, termasuk kelasnya sekalipun. Tetapi publikasi sekolah menyatakan, kelas tersebut adalah mata kuliah "Introduction to Congress", dan beberapa mahasiswa yang terlibat adalah para atlet.

The Harvard College Administrative Board, atau yang populer disebut "Ad Board," menjalankan penyelidikan. Dekan Sekolah Pendidikan Harvard Jay Harris berkata, hasil penyelidikan akan memutuskan kebijakan beragam, mulai dari pembebasan, teguran sederhana, skorsing setahun, hingga penghapusan beasiswa.

"Pilihan ini saya harap dapat membebaskan beberapa mahasiswa," imbuh Faust.

Proses penyelidikan ini, klaim Fraust, sesuai konsistensi Harvard  menjunjung tinggi standar para siswanya.

Koran sekolah, The Harvard Crimson melansir, setidaknya satu siswa telah diberi tahu akan menerima keputusan kampus secepatnya pada November. Tetapi, penjadwalan ini menimbulkan masalah sendiri bagi para atlet, yang dapat kehilangan satu tahun kelayakan jika mereka telah terdaftar di sekolah atau memulai musim pertandingan sebelum mereka mengundurkan diri.

Sports Illustrated melaporkan, wakil kapten tim basket Kyle Casey memutuskan mengundurkan diri ketimbang merisikokan kelayakannya dalam sekolah. Sementara itu, Boston Herald menerbitkan bahwa kapten Brandyn Curry juga memutuskan cuti selama satu tahun.

Dari tahun ke tahun, Harvard didapuk sebagai salah satu institusi akademik terbaik yang dimiliki Amerika Serikat. Sedikitnya selama lima tahun Harvard menempatkan diri sebagai lembaga pendidikan nomor satu versi US News & World Report. Para atlet Harvard juga menanjak pada tangga kepopuleran. Tim sepakbola Harvard memenangi kejuaraan Ivy League tahun lalu, dan tim bola basket pria menembus turnamen bola basket NCAA untuk pertama kalinya dalam 46 tahun.

Dalam pidato penyambutan mahasiswa baru angkatan 2016, Fraust mengingatkan para mahasiswanya bahwa mereka akan meraih keuntungan tidak hanya dari kerja keras mereka di Harvard, tetapi juga dari hasil karyanya itu sendiri.

Fraust menegaskan, tidak ada kompromi akademis yang akan dibuat bagi para atlet. Menurut Fraust, pengalaman mereka di Harvard sebagian besar ditentukan oleh pekerjaan yang mereka lakukan.

"Kesuksesan dan prestasi apa pun yang mereka raih selalu terkait dengan integritas mereka," ujar Fraust tegas.


Team Learning Versus Elearning

Elearning Milaulas

Pengertian "Team learning" bagi peserta didik adalah suatu proses pembelajaran yang lebih menitik beratkan kepada peserta didik untuk mencarikan solusi terhadap suatu permasalahn, yang mebedakannya dengan startegi pembelajaran yang lainnya adalah mereka membentuk Tim Belajar, sehingga masalah yang ditemui peserta didik selama proses pendidikan, dapat diselesaikan bersama "Team Learning". Dengan adanya "Team Learning" selain sebagai tempat untuk berbagi materi, dapat juga sebagai media untuk bersosialisasi dan bermain. Sehingga akan menghidupkan kembali kreativitas dan kepercayaan peserta didik. "Team learning focuses on the ability of a team working together. It involves the interaction of learners with each other learners, and provides tasks to work together when the learning process is ongoing". Maksudnya Tim belajar berfokus pada kemampuan dari sebuah tim bekerja secara bersama. Hal ini melibatkan interaksi peserta didik yang satu dengan peserta didik lainnya, serta memberikan tugas untuk dikerjakan secara bersama-sama ketika proses belajar itu berlangsung.

Hal ini juga akan memungkinkan menjadikan tim sebagai media transfer keterampilan dengan mengamati tindakan dan pemikiran teman tim belajar, sehingga pemecahan masalah dapat dilakukan secara kolektif.
Bagaimana pula dengan elearnig ? Di negara-negara maju sudah banyak sistem pembelajaran yang berlalih ke era digital. Sebahagian mereka tidak lagi menggunakan pembelajaran secara konvensional, baik dari proses pembelajaran sampai kepada proses evaluasi hasil pembelajaran. E-learning mencakup semua bentuk pembelajaran elektronik yang mendukung dalam proses pembelajaran itu sendiri, termasuk Sistem informasi dan komunikasi yang ada di dalamnya, termasuk seluruh multimedia yang ada di dalamnya (Audio, Video dan Audio-Video). Proses pembelajaran ini bisa menggunakan jaringan atau juga tidak karena yang menjadi fungsi utama dari E-learning adalah sebagai media untuk melaksanakan proses pembelajaran yang lebih baik.

E-learning adalah pendigitalisasian proses pembelajaran, bahan pembelajaran sehingga dapat menjadi fungsi transfer keterampilan dan pengetahuan. E-learning meliputi aplikasi dan proses pembelajaran berbasis web, pembelajaran berbasis komputer, pendidikan virtual dan kolaborasi digital. Hal semacam ini diharapkan dapat membuat perbedaan besar dalam proses pendidikan. Secara khusus, peserta didik dapat berinteraksi dengan media baru, dan mengembangkan keterampilan, pengetahuan, persepsi dunia, di bawah pengawasan orang tua dan tenaga pengaja

30 November 2012

Mencontek itu mematikan kreativitas & kepercayaan diri peserta didik










Banyak hal yang ada di lingkungan peserta didik yang kita kurang peka melihatnya. Salahsatunya yaitu dalam proses evaluasi hasil peserta didik. Evaluasi hasil belajar peserta didik berarti pengumpulan hasil belajar secara  bertahap dan sistematis untuk mengambil sebuah keputusan apakah dalam kenyataannya terjadi perubahan dalam diri peserta didik dan menetapkan sejauh mana tingkat perubahan tersebut. Proses evaluasi ini bertujuan untuk melihat sejauh mana peserta didik kita paham dan mengerti dengan materi yan telah kita sampaikan. Kebanyakan proses evaluasi yang terjadi kurang memberikan gambaran yang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki peserta didik.
Tanpa kita sadari, bahwasanya proses evaluasi yang sering kita lakukan mengakibatkan peserta didik kita menjadi kurang memiliki kepercayaan diri. Menurut Thantaway  (2005:87), Kepercayaan diri adalah kondisi mental atau psikologis diri seseorang yang memberi keyakinan kuat pada dirinya untuk berbuat atau melakukan sesuatu tindakan. Kita bisa buktikan masih banyak peserta didik kita yang tidak memiliki kepercayaan diri di dalam pelaksanaan evaluasi belajar.
Oleh karena hal tersebut, masih banyak peserta didik kita yang masih mencontek ketika diadakannya evaluasi. Peserta didik yang mencontek merupakan peserta didik yang tidak memiliki kepercayaan diri dalam proses evaluasi, dan kebanyakan mereka memiliki konsep diri negatif, kurang percaya pada kemampuannya, hal demikian itu sering menutup diri terhadap lingkungannya dan mengakibatkan hilangnya kreativitas diri peserta didik.
Mencontek pada saat ujian bagi sebagian peserta didik merupakan kebiasaan. Kebiasaan buruk tersebut jangan samapai menjadi bagian dari proses pembiaran dalam pendidikan, Tindakan tegas sudah sering dilakukan oleh tenaga pengajar untuk memperingatkan peserta didik yang mencontek. Banyak akibat buruk yang bisa ditimbulkan dari kebiasaan mencontek. Akibat buruk tersebut diantaranya adalah menurunnya rasa percaya diri dan kreativitas peserta didik. Mencontek akan memberikan efek tidak percaya dengan dirinya sendiri. Dalam melaksanaan evaluasi akan muncul perasaan tidak yakin sehingga selalu ingin melihat orang lain sebagai alat ukurnya. 
Hal ini akan berakibat kepada peserta didik itu sendiri. Peserta didik tidak mau lagi menyelesaikan evaluasi dengan baik dan memilih untuk melihat (Mencontek/bekerja sama) dengan orang lain. Sikap demikian itu akan berbuntut kepada plagiarisme yang memungkinkan tidak akan ada ide-ide orisinil yang keluar dari pemikiran peserta didik sehingga tidak memunculkan kreativitas diri.
Salah satu upaya untuk mengurangi kebiasaan mencontek adalah dengan memberikan sangsi terhadap pencontek. akan tetapi langkah tersebut merupakan langkah sementara Mencontek, apalagi sudah menjadi kebiasaan, penanggulangannya tidak lagi kepada peserta didiknya, akan tetapi bagaimana kita tenaga pengajar atau tenaga kependidikan bisa membuat sebuah sistem pembelajaran, baik dari awal pembelajaran samapai akhir dapat meberikan kontribusi terhadap kebiasanaan negatif ini. Upaya nyata yang bisa dilakukan untuk mencegah peserta didik mencontek ketika diadakannya evaluasi diantaranya adalah dengan membuatkan team learning bagi peserta didik, sehingga masalah yang ditemui peserta didik selama proses pendidikan, dapat diselesaikan bersama "Team Learning". Dengan adanya "Team Learning" selain sebagai tempat untuk berbagi materi, dapat juga sebagai media untuk bersosialisasi dan bermain.Sehingga akan menghidupkan kembali kreativitas dan kepercayaan peserta didik.

22 Mei 2012

Menagih Kiprah Bank Syariah

Penulis : Anom | 22 May 2012


13376608421855990860
ilustrasi/admin(KOMPAS.com)
Meski tumbuh dengan pesat, kontribusi perbankan syariah pada perekonomian nasional dinilai belum signifikan. Kecenderungannya masih membidik nasabah makmur.
Arviyan Arifin selalu bersemangat bicara tentang ketangguhan bank syariah menghadapi krisis. Krisis keuangan yang menghantam Asia pada 1997 menjadi catatan penting bagi Direktur Utama Bank Muamalat ini, membikin rontok hampir 60 industri perbankan nasional, krisis tak membuat perbankan yang kini ia pimpin ikut tenggelam. “Dari situlah orang menilai ada bank yang tahan krisis,” kata Arviyan, Selasa pekan lalu.
Industri perbankan syariah mengalami tren peningkatan signifikan di Indonesia. Perkembangan bisnis keuangan berslogan antiriba ini mencapai rata rata 15-20 persen dari tahun ke tahun. Bank syariah di Indonesia membukukan peningkatan yang terbilang mencengangkan. Dari 1992, grafik menunjukkan tren positif, dan bertengger di 35 persen sejak 2000 hingga 2011. “Ini luar biasa,” ujar pakar ekonomi syariah M Amin Suma.
Rezeki nomplok akibat meroketnya transaksi di perbankan syariah juga mengalir ke pundipundi Bank Muamalat. Dalam tiga tahun terakhir, bank syariah pertama di Indonesia ini membukukan keuntungan berlipat dari biasanya. Jika pada 2008 total transaksi terhitung pada kisaran 12 triliun, angka itu meningkat pesat menjadi 32 triliun pada 2011. Pertumbuhan selama 3 tahun terakhir ini, diakui Arviyan lebih besar dari pertumbuhan selama 17 tahun.
Perkembangan serupa juga tampak di sejumlah negara. Di Malaysia, perbankan syariah menyumbang besar perekonomian negeri jiran itu. Demikian halnya di Mesir dan Pakistan. Arviyan menyatakan tak ada perbedaan signifikan dalam pengelolaan perbankan syariah, baik di Indonesia maupun mancanegara. Perbankan syariah memiliki basis yang sama karena mengacu pada asas-asas syariah, akad jual beli dengan prosentase yang jelas sejak awal.
Hanya saja, perbankan syariah di sejumlah negara itu diakui lebih maju karena lebih dulu ekspansi dan memiliki keunggulan produk serta lebih beragam. Di Malaysia, misalnya, perbankan syariah sudah memiliki ratusan produk layanan perbankan. Berkembangnya beragam produk ini dipicu oleh kebutuhan masyarakat pengguna jasa perbankan. “Produk-produknya lebih variatif dibanding kita,” ujar Arviyan.
Perbedaan juga tampak pada regulasi yang berlaku, baik dari perizinan maupun dari kebijakan pembukaan cabang. Di Indonesia, pembukaan cabang bank syariah bisa dilakukan kapan saja. Hal ini menjadikan bank raksasa macam HSBC kepincut membuka layanan bank syariah. Dikhawatirkan, bank-bank asing besar lain juga akan masuk dan kemudian dominan di industri perbankan syariah Indonesia. “Mestinya dibedakan badan hukumnya. Kalau HSBC syariah, misalnya, itu akan mengikuti induknya. Harus diubah aturannya,” kata Wakil Ketua Komisi XI Achsanul Qosasi.
Perkembangan ini ditengarai ekonom Universitas Gadjah Mada, Revrisond Baswir, sebagai fenomena perekonomian global. Sistem perbankan syariah yang sonder spekulasi membuat industri ini dinilai lebih stabil. Kendati dituding tak ada perbedaan dalam transaksinya, perbankan syariah telah menjadi alternatif dari sistem perbankan konvensional yang kapitalis dan sarat riba dalam transaksinya. “Kalau bicara transaksi, produknya jelas beda,” ujar Revrisond.
Namun demikian, keuntungan besar yang dipanen perbankan syariah dinilai tak banyak membawa manfaat bagi masyarakat. Sumbangannya terhadap perekonomian nasional masih jauh tertinggal dibanding bank konvensional. Kecenderungan perbankan syariah yang lebih peduli pada nasabah makmur juga membuat industri yang berlabel dikelola secara syariah ini menuai banyak kritik.
Klaim perbankan syariah yang hendak menganulir riba dalam transasksinya dinilai peneliti Baitul Mal Nusantara Zaim Saidi sekadar merek dagang. Ia menuding tak ada perbedaan antara sistem dalam perbankan syariah dan bank konvensional, keduanya sama-sama perusahaan. Pemakaian istilah syariah menurut dia hanya agar dikenal sebagai bank umat Islam, yang diketahui merupakan pasar besar di negeri ini. “Kecurangan dalam manipulasinya tidak berbeda,” tegas Zaim.
Upaya perbankan syariah untuk meratakan modal, dengan demikian meratakan kesejahteraan, bagi dia tak lebih pepesan kosong, karena bank-bank syariah terbukti hanya peduli pada perusahaan-perusahaan besar. “Banking is holding,” katanya. Baik perbankan syariah maupun konvensional bagi dia sama-sama praktik riba, yang potensial menjadi kolaps. Karena itu, melalui lembaganya, ia mengkampanyekan kembali pada transaksi dengan dinar (emas) dan dirham (perak), yang lebih menjamin keadilan dan menghindarkan riba.
Sumbangan perbankan syariah diakui Arviyan dari sisi persentase masih di kisaran 5 persen. Peran perbankan syariah yang rata-rata mengelola sektor riil dinilainya menjadi sektor penting yang dapat mendongkrak perekonomian nasional. Demikian halnya dengan cabang-cabangnya di daerah, dengan jaringan baitul mal wattamwil yang bergerak pada jasa pinjaman usaha, diakui berperan membangkitkan ekonomi rakyat.
Kecenderungan perbankan syariah pada nasabah makmur diakui Achsanul menjadi keunikan bank syariah. Sebab, kata dia, bicara murabahah yang berbasis pada kredit dan modal kerja, perbankan syariah cenderung berhati-hati dalam memilih nasabah, sehingga hanya perusahaan-perusahaan besar dan settle yang lebih mudah mendapatkan kredit. Selain itu, pasar yang begitu kompetitif tak membuat bank syariah berupaya membuka ceruk pasar baru. “Bank syariah tak pernah berusaha membuka pasar baru.”
Achsanul menyayangkan perbankan syariah yang jarang sekali melakukan pelatihan atau mendidik nasabah dan hanya mengambil alih nasabah bank konvensional. Karena persaingan perbankan yang begitu besar, jalan instan dengan cara melakukan take over menjadi tak terhindarkan.

11 Mei 2012

Apakah Anak Perlu Tahu Masa Lalu Orangtuanya?


Ajeng Leodita Anggarani | 11 May 2012 

1336734087812370686
http://gerryindrapratamaatje.blogspot.com/2011/06/yohanes-2011-18.html
Seringkali kita mendengar ada orangtua yang mengatakan “saya nggak mau anak saya kelak akan bernasib seperti saya”.
Maksudnya pasti bukan sebuah keberhasilan yang dicapai, itu pasti menunjuk pada kegagalan yang dialami oleh si orangtua. Siapapun orangtua pastilah berfikir demikian, harapannya adalah si buah hati nantinya akan tumbuh besar dengan segala sesuatu yang lebih baik. Hal ini sah – sah saja. Walaupun ada pepatah yang menyebutkan “buah jatuh tak jauh dari pohonnya”.
Ini pengalaman tetangga saya. Yang notabene ex-PSK (Pekerja Seks Komersial) dilingkungan rumah saya pekerjaan wanita ini (sebut saja namanya Cahaya) sudah menjadi rahasia umum. Cibiran, hinaan , cacian, kerapkali mengisi kesehariannya, namun ia seakan tidak peduli. Ia keluar rumah sekitar pukul 7 malam, dan kembali kerumah sebelum matahari terbit. Cahaya sudah pernah menikah. Ia memiliki 2 anak dari dua orang suami. Sebelum memiliki anak pun, Cahaya memang sudah menjadi seorang PSK. Dan perkawinannya biasanya terjadi karena “kebablasan”. Namun setelah dinikahi, Cahaya pun diceraikan. Begitu hingga dua kali terjadi. Kedua putrid Cahaya tak pernah tahu apa pekerjaan ibunya. Orangtua Cahaya pun hanya mengatakan pada kedua cucunya bahwa ibu mereka sedang mencari uang untuk makan. Lagipula usia mereka masih terlalu kecil untuk memahami apa itu PSK dan apapula pekerjaannya.
Usia semakin bertambah, Cahaya kini memiliki banyak saingan. PSK yang bermunculan jauh lebih muda, cantik dan segar, akhirnya Cahaya mulai mencari uang tambahan dengan bekerja sebagai wasit billiard yang lokasinya tak jauh dari rumah kami. Disana Cahaya  berkenalan dengan seorang lelaki matang yang adalah Bandar judi bola, sebut saja namanya Deni. Waktu berlalu mereka pun menjadi sepasang kekasih. Sampai akhirnya Deni mengajak Cahaya untuk membina rumah tangga. Deni tahu bagaimana masa lalu Cahaya. Menurut Deni itu tak jadi masalah, karena ia hanya butuh seorang wanita yang akan mengurus anak – anaknya nanti.
Dan mereka pun menikah. Kedua putri Cahaya tidak pernah tahu darimana ibu mereka mengenal papa tirinya. Mereka hanya menerima keputusan ibunya untuk menikah lagi dan berjanji akan memberikan penghidupan yang layak. Cahaya juga seringkali memperingatkan pada suaminya jika jangan pernah membahas tentang masa lalu mereka di hadapan anak – anak.
Waktu terus berjalan. Cahaya pun melahirkan anak dari suami ketiganya itu. keuangan Cahaya membaik. Rumah mereka yang awalnya mengontrak kini berganti dengan sebuah rumah sederhana atas nama dirinya. Deni mampu memberikan apapun yan dibutuhkan Cahaya dan ketiga anak mereka. Kedua putri Cahaya tumbuh menjadi remaja yang cantik. Mereka sudah mengenal cinta monyet. Saat kedua putrinya sudah mulai besar, Cahaya sudah tak lagi bekerja. Karena semua sudah ditanggung oleh Deni. Jadi semakin sukses saja Cahaya menutup rapat kisahnya di masa lalu. Dan ia sepertinya sudah bisa tenang.
Namun pada suatu hari, anak sulungnya pulang kerumah dengan menagis sesenggukan. Cahaya yang sedang mengurus bayinya bingung. Ia bertanya,”kenapa kok nangis?”. Si anak diam menunduk dan semakin kencang menangisnya.
Cahaya bertanya sekali lagi,”kenapa nangis? Ayo bilang sama mama. Jangan begitu!”
Anaknya mengangkat wajahnya dan memandang ke arah Cahaya dan menatap mata Cahaya dengan tajam sambil berkata,”Tadi aku mau di cium sama pacarku. Aku nggak mau. Tapi dia bilang supaya aku jangan munafik. Karena mamaku dulu pelacur. Dan aku pasti tidak jauh berbeda dengan mama. Kenapa mama nggak pernah cerita ke aku? Kenapa aku harus tahu dari oranglain? Kalau aku tahu dari dulu, pasti aku nggak akan sekecewa ini ma. Mama pembohong!!”
Cahaya tak mampu menjawab. Dia hanya diam sambil menahan tangis. Ia tak menyangka, aib yang sudah ia jaga selama ini tercium juga oleh putrinya.
Dari kalimat si anak sulung Cahaya, kita bisa memahami, bahwa seburuk apapun masa lalu orangtua, si anak akan jauh lebih bisa menerima daripada harus mendengar dari orang lain. Karena akan jauh lebih memalukan. Jika anak kita tahu dari awal pastinya mentalnya akan jauh lebih siap.
Disini saya coba melemparkan pertanyaan pada pembaca sekalian, “Apakah kita harus membeberkan masa lalu kita pada anak ? Atau, “Apakah kita harus menutup rapat keburukan kita dimasa lalu pada anak dan membiarkannya mengetahui hal itu dari orang lain? Anda berhak menjawab dengan pola pikir masing – masing.
Tapi menurut pandangan saya, tidak semua perkiraan kita (orangtua) akan benar adanya. Ketakutan yang berlebihan pun akhirnya mampu menghancurkan mental anak kita.  Walau bagaimanapun kondisi orangtua dimasa lalu, baik itu buruk atau tidak, si anak harusnya bisa menerima. Karena pasti ada alasan mengapa orangtua melakukan hal tersebut. Dan sebagai orangtua sudah sepatutnya juga tidak menyimpan bangkai dalam keluarga. Semoga ini bisa jadi pembelajaran untuk kita bersama. Jadikanlah masalalu sebagai pelajaran yang berharga untuk masa depan.

10 Mei 2012

Tips Mengatur Uang Agar Tidak Boros

Teuku Raja Arief Silvho | 10 May 2012 


1. Hitung-hitung budget
Jujur kita tidak terlalu suka memikirkan soal budget, kan? “Susah” atau “tidak pernah berhasil”, itulah alasan yang kita lontarkan. Suka atau tidak, budget alias anggaran adalah alat penting untuk mengontrol keuangan. Anda bisa melihat seberapa banyak uang yang Anda punya, ke mana “perginya”, dan seberapa besar yang tersisa.
Saran: Menurut financial planner dan direktur Women’s Financial Network, Susan Jackson, agar kata budget terasa lebih positif ganti saja dengan money planning, spending plan atau cash control. Seperti yang ia tulis dalam bukunya Why Saving Is Like Dieting and Budgets Don’t Work, kata budget memang mirip dengan kata diet. Nah, cobalah lebih realistis. Jangan lakukan perubahan total. Lakukan bertahap saja. Yang penting adalah disiplin mematuhi anggaran. ltu sebabnya, mungkin Anda perlu selalu membawa notes atau catatan kecil berisi daftar belanjaan dalam tas. Jika ternyata pengeluaran Anda masih melebihi budget, jangan menghukum diri terlalu keras. lngat, perubahan takkan terjadi hanya satu malam.
2. Dari yang kecil
Memang tak bisa disangkal, biaya hidup sekarang mahal. Namun, sebenarnya Anda tetap punya kemampuan untuk menabung. Bayangkan saat ini Anda harus menabung Rp200.000. Mungkin Anda akan beralasan tak ada dana karena harus membayar ini-itu. Namun, ketika seorang teman lama menelepon clan mengajak Anda bertemu di sebuah restoran,tiba-tiba saja Anda memiliki uang Rp200.000 untuk pergi.
Saran: “Lebih baik Anda mulai menabung dengan sedikit uang ketimbang menunggu sampai uang terkumpul banyak tapi malah tak pernah memulainya (karena uang tidak kumpul-kumpul),” saran Susan. Hanya 10% dari penghasilan saja kok minimal yang harus Anda tabung. Jika masih sulit juga, coba saja cara lama yaitu menggunakan celengan (tapi jangan celengan bergembok dan berkunci, ya). Anda bisa menyelipkan Rp100.000 setiap gajian ke dalam celengan atau memasukkan koin Rp500 setiap hari hasil kembalian bus atau belanja di supermarket. Jangan lupa untuk selalu menaikkan uang tabungan, jika gaji Anda naik atau cicilan KTA lunas.
3. Lupakan kartu kredit
Membayar tagihan lebih dari pembayaran minimum sebaiknya menjadi langkah awal untuk meninggalkan ketergantungan Anda pada kartu kredit. Anda pasti tahu pembayaran minimum tak akan menghapus utang di kartu kredit Anda yang terus berbunga di atas bunga. Nah, di sinilah Anda akan menyadari perlunya Anda membuat budget. Anda bisa melihat besar dana yang tersisa dan mungkin bisa menggunakannya untuk membayar utang. lni bisa mempercepat pelunasan utang tersebut.
Saran: Alternatif lain adalah memanfaatkan program transfer balance dari kartu kredit lain yang menawarkan bunga 0% untuk jangka waktu 6 bulan, misalnya. Namun, menurut Brouwer dari Outlook Financial Solutions, kunci utama terbebas dari utang adalah mengubah kebiasaan penggunaan kartu kredit. Anda bisa mulai dengan meninggalkan kartu kredit di rumah atau tak menunda pembayaran tagihan. Mau sedikit ekstrim? Mintalah pengurangan limit kartu kredit, misalnya hanya dua kali lipat dari gaji Anda. Dengan cara ini, Anda akan menggunakan kartu kredit hanya untuk kebutuhan mendesak saja dan bukan untuk kebutuhan konsumtif.
4. Belajar investasi
Nah, setelah urusan utang beres, kini Anda akan punya uang lebih untuk memulai investasi. Sebenarnya sih,dengan hanya Rp 100.000, Anda sudah bisa berinvestasi. Mungkin yang menjadi pertanyaan berikutnya jenis investasi apa yang cocok untuk Anda?
Saran: Anda bisa menilai diri Anda lewat kuis yang termuat di buku-buku investasi atau meminta bantuan jasa financial planner, tipe investor yang manakah Anda? Konservatif, moderat atau agresif? Memang Anda akan dikenakan biaya saat berkonsultasi. Namun, jika mempertimbangkan situasinya, Anda tetap mendapat keuntungan kok, yaitu saran dari profesional.
5. Jangan lupa proteksi
Ok, di tahap ini Anda pasti sudah berhasil memiliki sejumlah dana di tabungan dan investasi. Namun, semua itu tak ada artinya jika tiba-tiba Anda divonis menderita penyakit berat. Uang tabungan dan investasi bisa habis untuk biaya pengobatan.
Saran: Penyakit yang kian banyak akibat gaya hidup kurang sehat, membuat kita mau tak mau harus memiliki asuransi kesehatan. Terutama buat Anda yang biaya kesehatannya ditanggung sebagian atau tidak ditanggung sama sekali oleh perusahaan. So, dengan menyisihkan uang sedikit untuk proteksi, Anda bisa mengambil manfaatnya di kemudian hari.
Masa depan dimulai hari ini
Mungkin Anda pikir, terlalu dini untuk memikirkan soal pensiun. Survei Newpoll pada tahun 2004 menemukan 56% pekerja terpaksa menunda rencana pensiun karena tak mempersiapkan dana hari tua. Nah, tak ada salahnya Anda mulai berpikir soal rencana keuangan hari depan. Mungkin saja Anda berniat pensiun dini dan tak ingin gaya hidup berkurang. Itulah pentingnya menyusun strategi keuangan sejak sekarang.

09 Mei 2012

Hati-hati jangan sampai tertipu dengan PROMO EVENT di FACEBOOK !!!

ZUL AFDAL | 09 May 2012 



Di bawah ini ada salah satu contoh PROMO EVENT SAMSUNG GALAXY yang hanya BOHONG BELAKA :
As a Promotional offer , Samsung has decided to give away 10,000 Galaxy Tabs FREE to our users online.
How does this work? Follow these steps : (SCROLL DOWN / SEE MORE *)
Step 1 : Click on “Join” at the top of the page.

Step 2 : Click ” Invite Friends” at the top of the page and select your friends and click SUBMIT. Gift voucher you receive depends upon amount of friends you invite.

Invite 50Friends = Samsung Galaxy Tab 7.0 Plus
Invite 100Friends = Samsung Galaxy Tab 7.7
Invite 200Friends = Samsung Galaxy Tab 10.1
Invite 500Friends = Samsung Galaxy Note + Tab 10.1
[NOTE : To select friends faster, press TAB and SPACE repeatedly.]
Step 3 : Comment - ” Great :D Thanks Samsung ! ” below.
Step 4: Subscribe http://blablabla
Step 5: Validate you entry at http://blablabla
For more questions feel free to ask at http://blablabla
IMPORTANT : Please perform all the steps carefully especially step 5. If you don’t comply with these steps, your entry will not be qualified. Recipients would be contacted shortly via Facebook Messages.
Hati - hati dengan PROMO EVENT DI ATAS :
https://www.facebook.com/events/107328002735942/
Promo ini mengatakan “GET FREE Samsung Galaxy Tab 10.1 - Limited Offer”
Promo Event ini hanya SCAM belaka (bohong belaka) … Jangan buat waktu shobat terbuang sia-sia hanya untuk invite orang lain karena tergiur promo event ini.
Ini adalah salah satu strategi baru seseorang untuk menaikkan SEO dan PAGE RANK blog mereka.
Tidak masuk akal kalau misalnya perusahaan sebesar Samsung promo dari sebuah alamat blogspot.com (Blog gratisan).
Shobat bisa cek sendiri di facebook shobat masing-masing !!!
Terimakasih Perhatiannya, semoga bermanfaat.

08 Mei 2012

Bermula Dari Sebuah Cita-Cita, Menjadi Tidak Sekadar Mimpi


Cita-cita itu tidak begitu penting, seorang pasti memiliki cita-cita dalam hidupnya. Tidak perlu guru atau orang tua mewajibkanakan itu , atau bahkan sampai memaksa memiliki itu, setiap anak punya cita-cita.  Seperti itu juga aku, dalam menjalani tapakan-tapakan kehidupan aku selalu ingin dan selalu ingin lebih bisa, bahkan keingintahuanku ini membuat diriku menjadi tidak tertahankan dalam mencari sesuatu yang inginku cari, memang tidak pernah terduka dan disangka, sesungguhnya setiap perjuagan yang pernah kita lakukan atau mungkin kita hadiahkan kepada seseorang itu akan terjawab seiring dengan berjalannya waktu, malahan hal ini menjadikan aku hampir setengah kaya akan jasa yagn mungkin sudah terlupakan.  

Islam, tidak ada suruhan bercita-cita. Yang ada itu 'tholabul ‘ilmi faridlotun ‘ala kulli muslimin walmuslimat', muslim cowok dan muslim cewek berkewajiban menuntut ilmu. Yang utama tentu ilmu yang wajib kita punyai, kemudian ilmu yang ingin kita ketahui, atau ilmu yang kita sukai, ilmu apa saja. Dari situ kita belajar, menemukan berbagai pengalaman.

Tidak akan ada yang mengatakan salah, jika seseorang itu mempunyai cita-cita yang tinggi, hal ini akan lebih meyakinkan lagi apabila cita-cita itu dibarengi dengan niat yang tulus dan luhur untuk kemaslahatan sesama manusia. Banyak saran-saran pakar ilmu psikologi yang telah membuktikan ini sebelum diriku. Mungkin ini hanya sekadar sesuatu yang tidak mungkin bagi diriku. Akan tetapi sekarang sebaliknya, 'Bermula Dari Sebuah Cita-Cita, Menjadi Tidak Sekadar Mimpi'

Disertai kondisi-kondisi tertentu dan berbagai pengalaman inilah yang sebenarnya kemudian menciptakan cita-cita dengan sendirinya, tidak ada paksaan. Terbukti dari survei terhadap teman-teman yang aku adakan. Mayoritas cita-cita mereka berubah di setiap jenjang sekolah, berubah setelah menerima berbagai informasi dan pengalaman. Cita-cita itu muncul setelah adanya proses menuntut ilmu, belajar, menerima berbagai informasi, dan macam-macam pengalaman.

Cita-cita masih kuanggap tidak begitu penting, akan tetapi prinsip 'Bermula Dari Sebuah Cita-Cita, Menjadi Tidak Sekadar Mimpi' akan selalu memberikan semangat menjadi apa kita kelak suatu haru nanti. Cita-cita adalah ‘sekedar’ konsekuensi dari proses belajar kita. Cita-cita itu bukan tujuan kita. Bagaimana proses bisa berlangsung tanpa adanya tujuan? Mari kita pikirkan bersama ... MERDEKA !!!

Sejauh Mana Guru Memahani Ranah Pembelajaran


Nunung Nuraida | 08 May 2012 


Satu pembelajaran menarik lagi yang saya dapatkan hari ini ketika seorang rekan kerja bertanya tentang kisi-kisi soal yang saya buat. Ketika dibaca ternyata ada hal-hal yang mengganggu yaitu penetapan ranah taksonomi bloom yang saya pakai. Tercatat di sana bahwa saya menggunakan kata operasional yang tidak ada di daftar kata kerja di ranah Bloom tersebut. Dan benar sekali, setelah saya cek ternyata memang tidak ada kata kerja operasional “menentukan” di daftar kata kerja operasional bloom. Padahal saya membuat kisi-kisi tersebut menyesuaikan dari kisi-kisi Ujian Nasional yang dibuat oleh diknas.
Saya pun mencoba melihat kembali kisi-kisi rekan sesama guru Bahasa Inggris dari sekolah lain. Dan ternyata hasilnya sama, mereka menggunakan kata kerja operasional “menentukan” di sebagian besar butir soal yang dibuat. Jika kisi-kisi yang saya buat ada kesalahan di bagian penggunaan kata kerja operasionalnya, seberapa banyak guru yang melakukan kesalahan yang sama? Akhirnya saya pun mulai mempelajarai lagi taksonomi Bloom itu dengan lebih teliti dan berusaha untuk membenahi dan memperbaiki kisi-kisi soal saya.
Saya pun mulai membuka kembali rincian soal-soal yang saya rancag beserta dengan ranah taksonominya, yang biasa kita kenal dengan istilah C1, C2, C3, C4, C5 dan C6. Sambil meneliti kembali soal, saya mulai menyesuaikan dengan kata kerja operasional yang semestinya digunakan bagi soal-soal tersebut. Ini pun jika kita masih mengikuti Taksonomi Bloom versi lama.
Setelah dikaji ulang, akhirnya saya dapat menyimpulkan beberapa hal, yaitu:
1. Untuk soal-soal Bahasa Inggris, ranah yang paling umum digunakan adalah C2 yaitu tentang pemahaman dan C3 yaitu tentang penerapan. Kami tidak lagi menggunakan ranah C1 yang hanya sekedar pengetahuan saja.
2. Sementara itu kata kerja operasional yang paling sering muncul dalam soal berbentuk pilihan ganda adalah menguraikan (C2), menunjukkan (C3), merangkum (C3), menemukan (C3), merumuskan (C3), menyimpulkan (C5), melengkapi (C3), menyesuaikan (C3).
3. Untuk mengarang, kata kerja operasional yang digunakan adalah menghasilkan (C6).
Sementara itu, jika kita mengikuti Taksonomi Bloom versi revisi, seperti dituliskan oleh David R. Krathwohl dalam jurnalnya yang berjudul “A Revision of Bloom’s Taxonomy: An Overview”, ada penyederhanaan kata kerja operasional yang digunakan.
Susunan Kata Kerja Operasionalnya yaitu:
1. Remember (Pengetahuan) C1
1.1. Recognizing (mengenali)
1.2. Recalling (mengingat)
2. Understand (Pemahaman) C2
2.1. Interpreting (mengartikan)
2.2. Exemplifying (mencontohkan)
2.3. Classifying (mengelompokkan)
2.4. Summarizing (merangkum)
2.5. Inferring (menyimpulkan)
2.6. Comparing (membandingkan)
2.7. Explaining (menjelaskan)
3. Apply (Menerapkan) C3
3.1. Executing (melaksanakan/melakukan)
3.2. Implementing (mengimplementasikan/menerapkan)
4. Analyze (Menganalisa) C4
4.1. Differentiating (membedakan)
4.2. Organizing (mengatur)
4.3. Attributing (menghubungkan)
5. Evaluate (Mengevalusi/menilai) C5
5.1. Checking (memeriksa)
5.2. Critiquing (mengkritik)
6. Create (Menciptakan) C6
6.1. Generating (menghasilkan)
6.2. Planning (merencanakan/merancang)
6.3. Producing (menghasilkan)
Mengingat penetapan ranah ini masih banyak membingungkan bagi para guru, saya rasa perlulah diadakan satu pelatihan khusus yang membahas khusus mengenai sistem penilaian secara tuntas, sehingga tidak ada lagi kesalahan atau ketidaksamaan pembuatan kisi-kisi soal. Terlebih lagi jika kisi-kisi soal itu dibuat oleh orang yang berbeda dengan pihak pembuat soalnya. Sebaiknya pihak penyusun kisi-kisi soal dan pembuat soal memiliki persepsi yang sama terhadap penggunaan ranah kognitif ini sehingga soal dengan bobot yang sama pun akan tersusun dengan baik di berbagai unit satuan pendidikan yang berbeda.

07 Mei 2012

Internet dengan SMARTFREN, I LOVE YOU and I HATE SLOW


Subki Raz | 07 May 2012 

Sudah lama sebenarnya saya mendengar tentang SmartFren yang punya slogan I HATE SLOW. Tetapi saya fikir, itu hanyalah slogan basi yang hampir semua operator memproklamasikan diri UNLIMITED. Ternyata Unlimited punya segala macam syarat seperti dibatasi Kuota dan Kecepatan (Speed). Kuota yang diberikan sebanding dengan tarif atau biaya langganan internet Pra Bayar.
Saya sudah bosan dan tidak percaya lagi sama promo XL maupun Telkomsel Flash. Baca Pengalaman saya di sini. Mereka menawarkan High Speed, tetapi ujung-ujungnya, speednya VERY SLOW. Tentu saja membuat sakit hati saja. Betapa tidak, sedang asyik-asyiknya mendownload software atau menonton TV Streaming, tiba-tiba speed anjlok. Bubarlah semua harapan berinternet cepat. Belum lagi harus ekstra sering melihat kuota, karena operator akan langsung men-DISCONNECT tanpa ampun jika batas kuota sudah terpenuhi. Semisal XL HOTROD 3G, menawarkan kuota 200 MB dengan biaya 25.000. Ada Telkomsel Flash Unlimited membatasi kuota 300 MB dengan tarif 50.000 rupiah.
Kemarin baru saja saya membeli modem SmartFren di toko Grand Hero Pancor, Lombok Timur. Ternyata paket modem ini cukup lengkap karena sudah dilengkapi dengan beberapa informasi yang penting kepada pelanggan. Di dalam box modem manis berwarna pink berisi antara lain:
  • Modem SmartFren

  • Daftar Gerai SmartFren

  • Buku Petunjuk Install

  • Syarat dan Ketentuan Paket Internet

  • Cara Isi Ulang, dll
Sebagai perbandingan dari pengalaman saya berinternet, SmartFren ini lebih oke dari AXIS. AXIS lebih joss dari Flash, dan Flash lebih stabil dari XL. Tetapi tentu saja semua pengalaman saya akan berbeda dengan daerah anda, karena semua juga tergantung kualitas sinyal di BTS dan speed yang ditawarkan.
Oh ya, tulisan ini juga bisa Online karena saya pakai modem plus kartu Smart Fren di daerah pinggiran yaitu di Kecamatan Labuhan Haji, Lombok Timur NTB. Operator lain di sini hanya memberikan sinyal GPRS dan sangat lelet untuk internet. Tetapi SmartFren ini malah sudah memberikan sinyal EVDO (setara 3G).Kecepatan Download 3,1 mbps dan Upload 253 kbps.
Saya rekomendasikan pembaca untuk mencoba SmartFren ini. Ini bukanlah promosi, tetapi benar-benar ingin mengajak saudara untuk menikmati internet cepat. Jadi kiranya tidak salah kalau SmartFren memang I HATE SLOW.
Berikut ini beberapa screenshot dari kecepatan SmartFren serta hasil speedtestnya.
1336368506451433241
1336368560604501191
Kecepatan Download
13363677221047384379
Kecepatan Download dengan SmartFren

06 Mei 2012

Koq… Gue Dilahirkan Sebagai Orang Jelek?

Penulis : Kafi Kurnia | 06 May 2012 


133627377637793158
Ilustrasi/kompasiana (Shutterstock)
Suatu hari, di Tsim Tsa Tsui - Hongkong, saya tertegun melihat sebuah buku karangan Alastair Dougall, judulnya “BOND VILLAINS”. Sebuah buku kecil yang menceritakan semua musuh, bandit dan penjahat yang melawan James Bond diserial filmnya. Ketika saya membeli buku tersebut, teman saya tertawa. Dia bilang, saya itu aneh. Selalu suka yang berlawanan. Saya cuma tertawa saja. Komentar saya saat itu, seringkali dalam kehidupan ini, sisi yang satunya jarang terungkap. Dan menjadi misteri tersendiri. Buat saya, seringkali cerita itu melewati kehebatan lawannya. Siang itu akhirnya kami berdamai dan menutupnya dengan makan burung goreng di Sha Tin.
Seminggu kemudian, saat saya sudah kembali ke Jakarta, teman saya mengirim email. Tentang kisah hidup Danny Trejo. Seorang actor yang berwajah buruk. Badan penuh tattoo. Sehingga sering berperan menjadi bandit atau penjahat. Wajah dan bentuk badannya menjadi cirri persepsi kita tentang seorang bandit atau penjahat. Anda pasti melihatnya diberbagai film. Konon Danny Trejo, sejak kecil memang sudah keluar masuk penjara. Menjadi preman, brandalan, dan kriminal sesungguhnya. Dipenjara Danny Trejo sendiri seringkali memenangkan kejuaran tinju. Hidupnya sangat gelap. Penuh dengan petualangan didunia hitam. Danny sendiri, barangkali pada suatu titik hidupnya, telah menyadari sepenuhnya bahwa ia menerima takdir sebagai orang jelek dan memang hak dan kewajiban-nya untuk menjadi penjahat.
Namun, pusaran nasib Danny Trejo berubah. Saat ia bertemu dengan seroang sutradara film yang mengajaknya main flm. Mulanya ia ragu. Namun sang sutradara film meyakinkan Danny bahwa sebuah film tidak hanya seru ditonton karena jagoannya ganteng dan keren. Sebuah film membutuhkan bandit dan penjahat yang sama serunya dan sebanding dengan jagoan-nya. Maka akhirnya Danny Trejo menerima fatwa perubahan nasibnya. Ia lalu menekuni jalan hidupnya yang baru. Sebagai seorang actor film dengan spesialisasi bandit atau penjahat. Uniknya Danny Trejo begitu terkenalnya, sampai-sampai pada akhirnya dalam film Machete, Danny Trejo berperan sebagai jagoan.
Mentor spiritual saya, Mpu Peniti pernah memberikan wejangan. Kata beliau dunia ini penuh dengan ketidak sempurnaan. Apabila kita hanya mau menghargai semua yang sempurna. Maka kita akan kecewa berat dan menyalahkan banyak pihak. Kalau kita tidak hati-hati, kita juga akan menyalahkan sang Pencipta. Mpu Peniti menyuruh saya melihat semuanya. Dan semuanya adalah sempurna. Maka semuanya harus dimanfaatkan. Hanya kita yang berpikir kerdil dan mengejek semua yang kita anggap tidak sempurna, dan memasukan-nya dalam kategori buruk, jelek dan jahat. Padahal semuanya memiliki peluang yang sama. Bila kita mampu berpikir dalam totalitas yang satu. Semuanya sempurna. Kita akan menghargai kehidupan ini dalam nilai yang sangat jauh lebih tinggi. Kita akan puas. Kita akan bahagia.
Sayangnya, realita yang kita hadapi tidaklah selalu demikian. Teman saya, seorang psikolog bercerita bahwa, secara budaya, kita sebenarnya telah dipenjarakan berabad-abad. Lihat saja dongeng-dongen disekeliling kita. Selalu saja ada cerita tentang satu orang yang jelek dan buruk rupa mendambakan cinta dari satu orang yang cantik dan sempurna. Dongeng seperti “Beauty and The Beast”, adalah salah satu yang populer. Orang tua selalu menginginkan anaknya lahir dengan kesempurnaan yang penuh. Entah itu cantik dan atau ganteng. Masyarakat kita dipenuhi dengan stigma seperti itu. Salah satu diantaranya adalah obsesi sejumlah wanita Indonesia yang ingin punya suami orang asing. Bilamana ditanya motifnya, salah satu jawaban yang popular adalah - “ingin memperbaiki garis keturunan”.
Pernah disebuah restoran, saya menguping percakapan sejumlah suster, yang membandingkan kecantikan dan kegantengan anak asuhnya. Percaya atau tidak, mereka lebih semangat mengasuh anak yang ganteng atau cantik. Mengasuh anak yang “tidak ganteng atau tidak cantik” seringkali membuat derajat mereka turun. Mereka menjadi tidak semangat, terlebih apalagi bilamana sang anak juga bandel dan tingkah lakunya membuat sang suster lelah untuk mengaturnya. Yang menyedihkan adalah kalau satu keluarga memiliki beberapa anak. Dan percaya atau tidak, anak yang penampilannya paling kurang, seringkali menjadi korban. Kurang mendapatkan perhatian dan menjadi sumber konflik. Inilah kenyataan yang menyedihkan. Terjadi disekeliling kita setiap harinya. Terlebih dalam dunia khayal ala sinetron setiap harinya, dimana kita cuma disajikan tontonan tentang orang ganteng dan cantik, secara tidak sengaja, kita membuat vonnis terhadap dunia kita.
Beberapa hari yang lalu dalam sebuah tayangan televise, tentang diskusi calon presiden Indonesia 2014, seorang komentator, terus terang membandingkan kondisi fisik para calon presiden. Vonnis sang komentator adalah semata-mata fisik mulai dari tinggi badan, penampilan wajah, hingga aspek lainnya. Malah sang komentator mengatakan salah satu calon, “terlihat serem”. Dan calon lain “dilihatnya saja sudah tidak enak”. Sangat sulit kita menilai seseorang tanpa atribut fisik. Sangat sulit pula kita tidak menilai negatif dan memiliki kecurigaan terhadap seseorang, semata-mata juga karena penampilan fisiknya.
Beberapa minggu yang lalu, saya kehilangan salah satu teman sekolah saya ketika di SMA dulu. Ia meninggal karena stroke. Buat saya mungkin cerita ini adalah tragedi tersendiri. Teman saya, wajahnya tidak jelek. Lumayan. Tinggi badannya juga rata-rata. Hanya saja ia punya penyakit kulit yang akut. Wajahnya selalu berjerawatan. Tidak pernah sembuh. Sehingga banyak wanita yang terusik melihat wajahnya. Ia mengalami kesulitan berhubungan dengan wanita. Dengan rasa kecewa yang sangat tinggi, ia akhirnya memutuskan untuk tidak meneruskan sekolah. Kebetulan ia berasal dari keluarga yang cukup mampu. Maka mulailah ia melakukan perlawanan terhadap nasib dan takdirnya, dilahirkan dengan kondisi seperti itu. Ia sangat marah dengan dunia. Ia juga marah mengapa wajahnya seperti itu. Bertahun-tahun ia marah. Hingga akhirnya ia dikalahkan nasib. Ia gagal menikah. Lalu meninggal patah hati terhadap perlaku-an dunia ini. Tahun lalu ia mengalami stroke. Beberapa minggu lalu ia meninggal dengan setumpuk kekecewaan.
Teman saya yang psikolog, pernah memperlihatkan “social media”, didepan saya lewat computer jinjingnya. Ia mencari wanita diatas umur 40 tahun dan masih lajang. Maka muncul-lah sejumlah wanita, yang tentu saja jauh dari standar pemain sinetron di televise. Tiba-tiba saya merasakan kesunyian yang sangat dalam dari mereka. Bahwa mereka gagal menikah, semata-mata karena fisiknya. Memang cerita orang “jelek” seperti aktor Danny Trejo, tidak terjadi tiap hari. Danny Trejo boleh dikatakan sebagai perkecualian yang mendekati mujizat. Namun satu perkecualian ini harus cukup menjadi satu pelita yang menerangi jalan gelap dihadapan kita. Buddha mengatakan :”bahwa dunia ini adalah hasil pemikiran kita bersama”. Apa yang kita pikirkan, maka jadilah dunia ini seperti sekarang. Barangkali di hari suci Waisak ini, kita memberanikan diri bersama, untuk mengubah pemikiran kita secara total. Kita harus berani memberikan harapan baru untuk dunia dengan serangkaian pemikiran baru.Amitābha

Jasa Web Murah

Reseller hosting

Kabar UPI

Reseller hosting
Reseller hosting
Reseller hosting