Reseller hosting

27 November 2011

Marilah Kita Beribadah Kepada Allah Dengan Sepenuh Hati

A. Makna Beribadah Kepada Allah Sepenuhnya.

He ndaknya sese orang tidak me ngira bahwa yang dimak-sud be ribadah se pe nuhnya adalah dengan me ninggalkan usaha untuk mendapatkan penghidupan dan duduk di masjid se panjang siang dan malam. Tetapi yang dimaksud – wallahu a'lam– adalah hendaknya se orang hamba beribadah dengan hati dan jasadnya, khusyu' dan merendahkan diri di hadapan Allah Yang Maha Esa, menghadirkan (dalam hati) be tapa be sar keagungan Allah, be nar-be nar merasa bahwa ia sedang be rmunajat ke pada Allah Yang Maha Me nguasai
dan Maha Me nentukan. Yakni be ribadah se bagaimana yang dise butkan dalam se buah hadits artinya :
"Hendaknya kamu beribad ah kepad a Allah seakan- akan kami melihatNya. Jika kamu tid ak melihatNya maka sesungguhnya Dia melihatmu."
Janganlah engkau termasuk orang-orang yang (ke tika be ribadah) jasad mere ka be rada di masjid, se dang hatinya be rada di luar masjid.
Me njelaskan sabda Rasulullah : "Beribadahlah sepenuhnya kepad aKu". Al-Mulla Ali Al-Qari be rkata, "Maknanya, jadikanlah hatimu benar-be nar se pe nuhnya (be rkonsentrasi) untuk be ribadah ke pada Tuhan-mu".

B. DALIL SYAR'I BAHWA BERIBADAH KEPADA ALLAH SEPENUHNYA TERMASUK KUNCI RIZKI

Ada be be rapa nash yang menunjukkan bahwa beribadah se pe nuhnya ke pada Allah termasuk di antara kunci-kunci rizki. Be berapa nash tese but di antaranya adalah:
1. Hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Abu Hurairah , dari Nabi be liau bersabda artinya:
"Sesungguhnya Allah berfirman, 'wahai anak Ad am!, beribadahlah sepenuhnya kepad aKu, niscaya Aku penuhi (hatimu yang ad a) di dalam dad a dengan kekayaan d an Aku penuhi kebutuhanmu. Jika tid ak kalian lakukan, nis-caya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan dan tidak Aku penuhi kebutuhanmu (kepada manusia)'."
Nabi dalam hadits te rse but me njelaskan, bahwasanya Allah me njanjikan ke pada orang yang beribadah ke padaNya se pe nuhnya dengan dua hadiah, se baliknya me ngancam bagi yang tidak beribadah ke padaNya se pe nuhnya de ngan dua siksa. Adapun dua hadiah itu adalah Allah mengisi hati orang yang be ribadah ke padaNya se pe nuhnya de ngan ke ka- yaan serta memenuhi ke butuhannya. Se dangkan dua siksa itu adalah Allah me menuhi ke dua tangan orang yang tidak be ribadah ke padaNya se pe nuhnya de ngan berbagai kesibuk-an, dan ia tidak mampu me menuhi ke butuhannya, se hingga ia tetap me mbutuhkan ke pada manusia.
2. Hadits riwayat Imam Al-Hakim dari Ma'qal bin Yasar ia be rkata, Rasulullah bersabda artinya:
"Tuhan kalian berkata, 'Wahai anak Ad am, beribad ah-lah kepadaKu sepenuhnya, niscaya Aku penuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan rizki. Wahai anak Adam, jangan jauhi Aku sehingga Aku penuhi
hatimu dengan kefakiran dan Aku penuhi kedua tangamu dengan kesibukan."
Dalam hadits yang mulia ini, Nabi yang mulia, yang be rbicara be rdasarkan wahyu me ngabarkan tentang janji Allah, yang tak satu pun le bih memenuhi janji daripadaNya, be rupa dua jenis pahala bagi orang yang benar-be nar be r- ibadah ke pada Allah se pe nuhnya. Yaitu, Allah pasti meme - nuhi hatinya de ngan ke kayaan dan ke dua tangannya dengan rizki. Se bagaimana Nabi juga memperingatkan akan ancam-an Allah ke pada orang yang menjauhiNya dengan dua jenis siksa. Yaitu Allah pasti me menuhi hatinya dengan ke fakiran dan ke dua tangannya dengan kesibukan.
Dan se mua mengetahui, siapa yang hatinya dikayakan ole h Yang Maha Me mbe ri ke kayaan, niscaya tidak akan dide kati ole h ke miskinan selama-lamanya. Dan siapa yang ke dua tangannya dipe nuhi rizki oleh Yang Maha Memberi rizki dan Maha Perkasa, niscaya ia tidak akan pe rnah pailit selama- lamanya. Se baliknya, siapa yang hatinya dipenuhi de ngan kefakiran oleh Yang Maha Kuasa dan Maha Me nentukan, niscaya tak se orang pun mampu me mbuatnya kaya. Dan siapa yang disibukkan oleh Yang Maha Pe rkasa dan Maha Me maksa, niscaya tak se orang pun yang mampu me mberinya waktu luang.

[Sumber dari Syaikh DR. Fadhl Ilâhî Zhâhir]

Pintaku Pada Mu Ya Rabbi : Muliakanlah Selalu Ibuku ...


Sore itu aku bersiap-siap mengirimkan paket untuk istriku tercinta, semua pesanan yang aku pinta (karena istriku jarang meminta kecuali kalau lagi ...) untuk aku belikan sudah aku persiapkan 2 hari sebelumnya, hanya satu  yang tersisa yaitu memindahkan seluruh data kuliahku ke hardisk notebookku., karena hardisk itu juga milik istriku yang aku pinjam 1 bulan yang lalu. Di dalam hardisk ekternal 320 Gb itu akan aku isi dengan file-file istriku yang dulu pernah hilang tapi sudah berhasil dikembalikan 90 %. Pada saat aku mengcopy file tanpa sengaja terlihat olehku 2 photo ini : 



Ya Allah, tanpa ku sadari, sambil menulis posting ini, air mataku berlinangan di pipi, mungkin aku seorang yang cengeng untuk hal semacam ini, tapi aku bersyukur Allah masih memberikan aku ingatan yang sangat dalam untuk orang-orang yang aku cintai dan aku sayangi, walaupun ibu sudah pergi secara jasad meninggalkanku. Akan tetapi aku selalu yakin ibu selalu ada bersamaku, disetiap senang dan susahku, dan ibu selalu sabar mendengarkan keluhan dari anaknya yang hina ini, yang selalu berbuat dosa, yang lagi belajar mencari arti kehidupan yang sebenarnya, yang lagi berjalan menapaki jalan yang belum tentu berujung diakhir perjalanannya. Ibu ... Aku rindu kepadamu, aku sadar dan tahu ketika aku menangis berlinangan air mata, setan dan iblis tertawa melihat lemahnya imanku. Biarlah ya Allah, aku ingin merasakan moment-moment yang dulu pernah ku rasakan, moment-moment dimana aku mempunyai seorang ibu yang selalu memperhatikanku, selalu mengingatkanku, walaupun detik-detik dimana Engkau memanggilnya di pangkuan MU ya Allah Rabbul Izzati. Ramadhan telah ku lalui bersamama ya ibu, ini sedikit curhatan hatiku dikala Ramadhan da ibu tidak bersamaku lagi. Dengarkanlah ibu, aku yakin engkau akan dengar dan lihat ini. Aku ingin enkau tersenyum. Aku menulisnya 5 hari sebelum hari lahirku, tepatnya tanggal 9 Juli 2011 jam 18.57 PM.

Ya Allah, mungkin dengan hal semacam ini aku bisa lebih dekat kepadaMU, aku pinta ya Allah, sudah hampir 1 tahun kepergian ibuku, aku pinta ya Allah, di hari pertama, bulan pertama tahun Islam 1433 H ini, istiqomahkanlah hambaMU ini ya Allah untuk selalu ada di jalanMU.
                            
Ya Allah, hanya do'a yang dapat ku kirimkan untuk ibuku tercinta, tempatkanlah ia selalu di pangkuanMu ya Allah, Allahummagh firlaha, warhamha, wa'afiha, wa'fuanha Bibarokatil Ummul Qur'an, Al Faatihah [mohon bacakan 1x untuk Ibunda Tercinta Jasmaidar Binti Bulkhaini Yusuf], dengan doa agar dilapangkan kuburnya, diampuni kekhilafan dosanya dan diterima seluruh amal ibadahnya, amin ya ALLAH Ya Robbal 'Alamin ...

Sangat Penting Diamalkan : Tata Cara Shalat Nabi Muhammad


Segala puji hanya milik Allah semata, shala-wat dan salam semoga tetap dicurahkan kepada hamba dan utusanNya, yaitu Nabi Muhammad, keluarga dan para shahabatnya. Amma ba`du:
Berikut ini adalah uraian singkat tentang sifat (tata cara) shalat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . Penulis ingin menyajikannya kepada setiap muslim, baik laki-laki ataupun perempuan, agar siapa saja yang membaca-Nya dapat bersungguh-sungguh dalam mencontoh (berqudwah) kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. di dalam masalah shalat, sebagaimana sabda beliau:

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Al-Bukhari).
Kepada para pembaca, berikut ini uraiannya:
1. Menyempurnakan wudlu;
(Seseorang yang yang hendak melakukan shalat) hendaknya berwudlu sebagaimana yang diperintahkan Allah; sebagai peng-amalan terhadap firmanNya:
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak melakukan shalat, maka cucilah muka kalian, kedua tangan kalian hingga siku, dan usaplah kepala kalian, dan (cucilah) kedua kaki kalian hingga kedua mata kaki…” (Al-Ma’idah: 6).
dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Tidak diterima shalat tanpa bersuci dan shadaqah dari penipuan.” (HR. Muslim ).
Dan sabdanya kepada orang yang tidak betul shalatnya:

“Apabila kamu hendak melakukan shalat, maka sempurnakanlah wudhu”.

2. Menghadap ke kiblat:
Yaitu Ka`bah, di mana saja ia berada dengan seluruh tubuhnya (secara sempurna), sambil berniat di dalam hatinya untuk melakukan shalat sesuai yang ia inginkan, apakah shalat wajib atau shalat sunnah, tanpa mengucapkan niat tersebut dengan lisannya, karena mengucapkan niat dengan lisan itu tidak dibenarkan (oleh syara`), bahkan hal tersebut merupakan perbuatan bid`ah. Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah melafadzkan niat begitu juga para sahabat. Disunnahkan meletakkan sutrah (pembatas) baik sebagai imam atau shalat sendirian karena demikian itu termasuk sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Shalat harus menghadap kiblat sebab tidak sah shalat seseorang jika tidak menghadap kiblat kecuali dalam kondisi tertentu yang telah banyak dijelaskan dalam kitab-kitab fikih.

3. Takbiratul ihram dengan mengangkat ke-dua tangan hingga sejajar dengan pundak
sambil mengucap Allahu Akbar lalu mengarahkan pandangan ke tempat sujud.
4. Mengangkat kedua tangan di saat bertak-bir hingga sejajar dengan kedua pundak
atau sejajar dengan kedua telinganya.
5. Meletakkan kedua tangan di atas dada-nya,
Yaitu dengan meletakkan tangan kanan pada punggung tangan kiri, atau pada pergelangan tangan kiri, atau pada lengan tangan kiri, karena hal tersebut ada haditsnya, (seperti) hadits yang bersumber dari Wa’il bin Hujr dan Qubaishah bin Hulb Al-Tha’iy yang ia riwaratkan dari ayahnya radhiyallahu ‘anhu.
6. Disunnahkan membaca do’a istiftah:

“Ya Allah, jauhkanlah antaraku dengan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat; Ya Allah, sucikanlah aku dari kesalahan-kesalahanku seba-gaimana pakaian putih disucikan dari segala kotoran; Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesa-lahan-kesalahanku dengan air, es dan salju” (Muttafaq `alaih yang bersumber dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam).
Boleh juga membaca do’a yang lain sebagai gantinya, seperti:

“ Maha Suci Engkau, Ya Allah, dengan segala puji bagiMu, Maha Mulia NamaMu, dan Maha Tinggi kemuliaanMu, tiada Tuhan yang yang berhak disembah selain Engkau“.
Karena do’a ini ada dalil shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan diperbolehkan membaca do’a istiftah lain dari keduanya yang ada dalil shahihnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun yang lebih afdhal (utama) adalah pada suatu saat membaca do`a istiftah yang pertama dan pada saat yang lain membaca yang kedua atau yang lainnya yang ada dalil shahihnya, karena yang demikian itu lebih sempurna dalam ber-ittiba` (mencontoh Rasu-lullah shallallahu ‘alaihi wasallam).
Kemudian membaca:

“Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk ” “Dan dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang“.
Dan dilanjutkan dengan membaca Surat Al-Fatihah, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Tidak syah shalat seseorang yang tidak membaca Surat Al-Fatihah “, dan sesudah itu membaca “Amin” secara jelas (nyaring) dalam shalat jahriyah, dan sirr (tersembunyi) dalam shalat sirriyah.
Kemudian membaca ayat-ayat Al-Qur’an, dan diutamakan bacaan dalam shalat Zhuhur, Ashar dan Isya’ dari surat-surat yang agak panjang, dan pada shalat Shubuh surat-surat yang panjang, sedangkan pada shalat Maghrib surat-surat pendek dan pada suatu saat boleh juga membaca surah yang panjang atau setengah panjang, maksudnya pada shalat Maghrib, sebagaimana yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan pada shalat Ashar hendaknya membaca surat yang lebih pendek dari pada bacaan shalat dzuhur
7. Ruku` sambil bertakbir dan mengangkat kedua tangan hingga sejajar
dengan kedua pun-dak atau kedua telinga,
dengan menjadikan kepala sejajar dengan punggung dan meletakkan kedua tangan pada kedua lutut dengan jari-jari terbuka sambil thuma’ninah di saat ruku` dan mengucapkan:

“Maha suci RabbKu Yang Maha Agung”
Dan lebih diutamakan membacanya tiga kali atau lebih, dan di samping itu dianjurkan pula membaca:

“Maha Suci Engkau, Wahai Rabb kami dan dengan segala puji bagiMu, Ya Allah, ampunilah aku”.
8. Mengangkat kepala dari ruku’,
sambil mengangkat kedua tangan hingga sejajar dengan kedua pundak atau kedua telinga
sambil membaca:

“Semoga Allah mendengar orang yang memuji-Nya”.
baik sebagai imam atau shalat sendirian. Lalu di saat berdiri mengucapkan:

“Wahai Rabb kami, milikMu segala pujian sebanyak-banyaknya lagi baik dan penuh berkah, sepenuh langit dan bumi, sepenuh apa yang ada di antara keduanya dan sepenuh apa saja yang Engkau kehendaki kelak”.
Dan jika ditambah lagi sesudah itu dengan do’a:

“ Pemilik puja dan puji, ucapan yang paling haq yang diucapkan oleh seorang hamba; dan semua kami adalah hamba bagiMu; Ya Allah, tiada penghalang terhadap apa yang Engkau berikan, dan tiada yang dapat memberikan terhadap apa yang Engkau halangi, tiada berguna bagi orang yang memiliki kemuliaan, karena dariMu lah kemuliaan”.
Maka hal tersebut baik, karena yang demikian itu ada dasarnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam beberapa hadits shahih.
Adapun jika ia sebagai ma’mum, maka di saat mengangkat kepala membaca:

“Wahai Rabb kami, milikMu lah segala puji-an“… hingga akhir bacaan di atas.
Dan dianjurkan meletakkan kedua tangannya di atas dadanya, sebagaimana yang ia lakukan pada saat berdiri sebelum ruku`, karena keshahihan hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menunjukkan demikian, yaitu hadits yang bersumber dari Wa’il bin Hujr dan Sahal bin Sa`ad radhiyallahu ‘anhu.
9. Sujud sambil bertakbir dengan meletak-kan kedua lutut sebelum kedua tangan, jika hal tersebut memungkinkan. Dan jika tidak, maka men-dahulukan kedua tangan sebelum kedua lutut, sambil menghadapkan jari-jari kedua telapak kaki dan jari jari kedua telapak tangan ke qiblat, dengan posisi jari-jari telapak tangan rapat. Dan sujud di atas tujuh anggota tubuh, yaitu dahi bersama hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut dan ujung jari kedua telapak kaki, sambil membaca do’a:

“Maha Suci Rabbku Yang Maha Tinggi.” tiga kali atau lebih:
Dianjurkan pula membaca:

“Maha Suci Engkau, Ya Allah Rabb kami, dengan segala puji bagiMu. Ya Allah ampunilah aku “.
Dan memperbanyak do’a, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Adapun ruku`, maka agungkanlah Tuhan pada saat itu, dan adapun sujud, maka bersungguh-sungguhlah kalian dalam berdo’a, sebab layak untuk diterima bagi kalian.”
Dan juga sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam:

“ Posisi terdekat seorang hamba dari Tuhannya adalah di saat ia sedang sujud, maka dari itu perbanyaklah do’a.”
Kedua hadis tersebut diriwayatkan oleh Muslim di dalam Shahihnya.
Hendaknya (diwaktu sujud) ia memohon kepa-da Tuhannya kebaikan dunia dan akhirat untuk dirinya dan untuk orang lain dari kaum muslimin, baik itu dalam shalat wajib maupun dalam shalat sunnah. Dan (diwaktu sujud) hendaknya mereng-gangkan kedua lengan tangan dari kedua lambung dan perut dari kedua pahanya sambil mengangkat kedua hasta/lengah tangannya dari tanah, sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“ Tegak luruslah kalian di saat sujud dan jangan ada seorang dari kalian meletakkan kedua lengan tangannya seperti anjing meletakkan kedua lengan tangannya.” (Muttafaq `alaih).
10. Mengangkat kepala sambil bertakbir,
bertumpu pada kaki kiri dan mendudukinya, sedang-kan kaki kanan ditegakkan, meletakkan
kedua tangan di atas ujung kedua paha dan kedua lutut, lalu mem-baca:

“Wahai Rabbku, ampunilah aku; wahai Rabbku, ampunilah aku; wahai Rabbku, ampunilah aku. Ya Allah, ampunilah aku, belas kasihilah aku, berilah aku petunjuk, berilah aku rizki, berilah aku kesehatan dan tutupilah kekuranganku.”
Hendaknya thuma’ninah (berhenti sebentar) di waktu duduk, hingga setiap persendian benar-benar berada pada posisinya, sebagaimana di saat ia berdiri i`tidal sebelum ruku`, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memanjangkan (waktu) i`tidalnya sesudah ruku` dan ketika duduk di antara dua sujud.
11. Sujud yang kedua sambil bertakbir,
dalam melakukannya sebagaimana ia melakukan pada sujud pertama.
12. Mengangkat kepala (bangun) sambil bertakbir,
dan duduk sejenak seperti duduk antara dua sujud. Ini disebut duduk istirahat, hukumnya sunnah menurut pendapat yang lebih kuat dari dua pendapat para ulama, dan jika ditinggalkan maka tidak apa-apa. Dan pada duduk ini tidak ada bacaan atau pun do’a.
Lalu bangkit dan berdiri untuk melakukan raka`at yang kedua dengan bersanggah pada kedua lutut jika memungkinkan, dan jika tidak memung-kinkan, maka bersanggah kepada kedua tangan di atas lantai, kemudian membaca Al-Fatihah dan sete-rusnya seperti apa yang dilakukan pada raka`at yang pertama. Tidak boleh bagi seorang ma’mum menda-hului imam, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang umatnya dari tindakan seperti itu, demikian juga dibenci memba-rengi imam. Sunnahnya bagi ma`mum, gerakan-gerakannya harus sesudah gerakan-gerakan imam-nya dengan tidak berbarengan, dan harus setelah terhentinya suara imam, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“ Sesungguhnya imam itu dijadikan sebagai imam agar diikuti, maka janganlah kalian menyelisihinya, oleh karena itu, jika ia bertakbir maka bertakbirlah kalian, dan jika ia ruku` maka ruku`lah kalian, dan apabila ia membaca: “Sami`allahu liman hamidah”, maka bacalah: “Rabbana wa lakal-hamdu”, dan apabila ia sujud, maka sujudlah kalian” (Muttafaq `alaih).
13. Jika shalat itu adalah shalat dua raka`at, seperti shalat Subuh, shalat Jum`at dan shalat `Id, maka duduk iftirasy setelah bangkit dari sujud kedua, yaitu dengan menegakkan kaki kanan, dan bertumpu pada kaki kiri, tangan kanan diletakkan di atas paha kanan dengan menggenggam semua jari kecuali jari telujuk untuk berisyarat kepada tauhid di saat meng-ingat Allah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berdo’a. Jika jari manis dan jari kelingking tangan kanan digenggamkan, sedangkan ibu jari dibentuk lingkaran dengan jari tengah dan berisyarat dengan jari telunjuk, maka hal tersebut sangat baik sekali, karena kedua cara tersebut ada di dalam hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan afdhalnya melakukan cara yang pertama pada suatu saat dan cara yang kedua pada saat yang lain. Sedangkan tangan kiri diletakkan di atas (ujung) paha kiri dan lutut; lalu membaca Tasyahhud, yaitu:

Kemudian dilanjutkan dengan membaca:

Lalu memohon perlindungan kepada Allah dari empat hal dengan membaca:
Kemudian berdo’a, memohon kepada Allah untuk kebaikan dunia dan akhirat. Dan apabila berdo`a untuk kedua orang tua atau untuk kaum muslimin, maka dibolehkan, baik di waktu shalat wa-jib ataupun shalat sunnah, berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari Ibnu Mas`ud radhiyallahu ‘anhu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarinya Tasyahhud, beliu bersabda:

“Kemudian hendaknya ia memilih do`a yang lebih disukai, lalu berdo`a”
Do`a yang disebutkan dalam hadist di atas men-cakup semua apa saja yang berguna bagi seseorang dalam kehidupan dunia dan akhirat. Setelah itu memberi salam dengan menoleh ke kanan dan salam dengan menoleh ke kiri, seraya mengucapkan:
14. Jika shalat yang dikerjakan adalah tiga raka`at, seperti shalat Maghrib, atau empat raka`at, seperti shalat Zhuhur, `Ashar dan Isya’, maka hendak-nya ia membaca tasyahhud tersebut di atas dengan membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian bang-kit dengan bersanggah kepada kedua lututnya, sambil mengangkat kedua tangan sampai sejajar dengan kedua pundak dan membaca Allahu Akbar, lalu mele-takkan kedua tangan di dada sebagaimana diterang-kan di atas kemudian membaca Al-Fatihah saja.
Jika ia membaca surah atau ayat pada raka`at ketiga dan keempat dalam shalat dzuhur sesudah al-Fatihah pada saat-saat tertentu, maka tidak apa-apa. Karena ada hadits shahih yang menunjukkan hal tersebut dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersumber dari Abu Sa`id radhiyallahu ‘anhu.
Dan jika tidak membaca shalawat pada tasyah-hud pertama, maka tidak apa-apa, karena hukumnya sunnah, tidak wajib dalam tasyahhud awal. Kemudian membaca tasyahhud setelah raka`at ketiga pada shalat Maghrib, dan setelah raka`at keempat dari shalat Zhuhur, Ashar dan Isya’, berikut dengan shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam , dan memohon perlindungan kepada Allah dari empat perkara yang disebutkan di atas (adzab Neraka Jahannam, siksa kubur, fitnah kehi-dupan dan kematian dan dari kejahatan fitnah Dajjal), lalu perbanyak berdo`a.
Dan di antara do`a yang diajarkan pada akhir tahiyyat (tasyahhud) dan juga dalam kesempatan-kesempatan lainnya adalah:

“ Ya Rabb kami, karuniakan kepada kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat dan peliharalah kami dari adzab api Neraka”.
Karena ada hadits shahih yang bersumber dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

Kebanyakan dari do`a-do`a Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam itu adalah Rabbana atina fiddunya hasanah wafil akhirati hasanah wa qina adzaban nar.
Sebagaimana telah disebutkan di atas dalam shalat yang dua raka`at, hanya saja posisi duduk saat ini adalah duduk tawarruk, yaitu duduk dengan meletakkan telapak kaki kiri di bawah betis kaki kanan dan kemudian mendudukkan pantat di atas tanah, sedangkan kaki kanan tegak, berdasarkan hadits yang bersumber dari Abu Humaid. Kemudian memberi salam ke kanan sambil mengucapkan: dan salam ke kiri seraya mengucapkan:  
Sehabis itu beristighfar (memohon ampun) kepada Allah tiga kali, membaca:

“Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Selamat dan dariMu-lah keselamatan, Maha Suci Engkau, wahai Tuhan Pemilik keagungan dan kemulia-an; tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagiNya, milikNya lah kerajaan, dan milikNya-lah segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu; tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Ya Allah, tiada yang dapat menghalangi terhadap apa yang Engkau berikan, dan tiada yang dapat memberi terhadap apa yang Engkau halangi, tidaklah bermanfaat kemuliaan bagi pemiliknya kecuali kemuliaan itu dari Engkau. Tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan kami tidak menyembah kecuali hanya kepadaNya; kepunyaanNya lah kenikmatan dan milikNya lah karunia, dan bagiNya-lah sanjungan yang baik, tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dengan tulus ikhlas tunduk kepadaNya sekalipun orang-orang kafir tidak suka”.
Kemudian bertasbih (mengucapkan Subhanallah ) sebanyak 33 kali, memuji Allah (mengucapkan Alhamdulillah) 33 kali dan bertakbir (mengucapkan Allahu akbar) 33 kali, serta digenapkan menjadi seratus dengan mengucapkan:

“Tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagiNya, kepunyaan-Nya-lah kerajaan, dan milikNya-lah segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
Lalu membaca ayat Kursi, Surat Al-Ikhlash, surat Al-Falaq dan Surah An-Nas pada setiap kali selesai shalat. Dan dianjurkan (disunnahkan) meng-ulang tiga surat tersebut sebanyak 3 kali setelah selesai shalat Maghrib dan shalat subuh, berdasarkan hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menganjurkan tentang hal itu, begitu pula dianjurkan (disunnahkan) menambah dzikir tersebut di atas, terutama setelah shalat Maghrib dan shalat Subuh dengan dzikir berikut 10 kali:

“Tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagiNya, kepunyaan-Nya-lah kerajaan, dan milikNya-lah segala pujian, Dia menghidupkan dan mematikan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
Semua itu berdasarkan hadits shahih dari Rasu-lullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Jika ia sebagai imam, maka hendaknya berbalik menghadap para ma’mum sesudah beristighfar 3 kali dan mengucapkan:

“Ya Allah, Engkau Yang Maha selamat dan dariMu lah keselamatan, Maha Tinggi lagi Maha Suci Engkau, wahai Pemilik keagungan dan kemuliaan”.
Kemudian membaca dzikir-dzikir sebagaimana tersebut di atas, yang banyak disebutkan dalam hadits-hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, di antaranya adalah hadits shahih yang dari `Aisyah radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Semua dzikir di atas hukumnya sunnah, tidak wajib.
Disunnahkan pula bagi setiap muslim, baik laki-laki atau perempuan shalat sunnah 4 raka`at sebelum Zhuhur dan 2 raka`at sesudahnya, 2 raka`at sesudah shalat Maghrib, 2 raka`at sesudah Isya dan 2 raka`at sebelum shalat Subuh. Jumlah kesemuanya 12 raka`at, yang dinamakan shalat rawatib; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu menjaganya di waktu muqim, adapun di waktu beper-gian beliau hanya melakukan shalat sunnat Subuh dan witir. Untuk kedua shalat sunnah tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah meninggalkannya baik di waktu muqim maupun di waktu bepergian. Beliau adalah teladan bagi kita, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik”. (Al-Ahzab: 21).
Dan juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat”.(HR. Bukhari).
Dan lebih utama (afdhal) shalat-shalat rawatib dan shalat witir dilakukan di rumah, namun jika dilakukan di masjid, maka tidak apa-apa sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Sebaik-baik shalat seseorang adalah di rumah, kecuali shalat wajib.” (Hadits ini disepakati keshahihannya oleh Bukhari dan Muslim)
Menjaga shalat rawatib dengan sungguh-sung-guh merupakan bagian dari sebab seseorang masuk Surga, sebagaimana yang diriwayatkan di dalam Shahih Muslim dari Ummi Habibah radhiyallahu ‘anhu sesungguh-nya dia berkata: Saya telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Tiada seorang hamba muslim pun yang selalu melakukan shalat sunnat 12 raka`at selain dari shalat wajib pada setiap hari, melainkan Allah bangun untuknya sebuah istana di Surga.”
Dan sesungguhnya Imam At-Tirmidzi di dalam riwayat haditsnya juga menjelaskan (menafsirkan) hadits di atas sebagaimana yang kami sebutkan tadi.
Jika ia melakukan 4 raka`at sebelum shalat Ashar, 2 raka`at sebelum Maghrib, dan dua raka`at sebelum shalat Isya`, maka itu lebih baik sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Allah akan memberi rahmat kepada seseorang yang selalu shalat 4 raka`at sebelum Ashar“. (HR. Imam Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, dan ia menghasankannya; dishahihkan Ibnu Huzaimah, sanad hadits tersebut shahih).
Dan juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“ Di antara dua adzan (adzan dan iqamah) ada shalatnya, di antara dua adzan ada shalatnya, -Lalu beliau bersabda untuk ketiga kalinya: Bagi yang menghendaki.” (HR. Al-Bukhari)
Dan jika shalat 4 raka`at setelah shalat Zhuhur dan 4 raka`at sebelumnya, maka itu pun baik pula, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Barangsiapa yang menjaga 4 raka`at sebelum Zhuhur dan 4 raka`at sesudahnya, maka ia diharamkan oleh Allah atas api Neraka.” (HR. Ahmad dan Ahlus Sunan dengan sanad shahih dari Ummi Habi-bah radhiyallahu ‘anhu)
Maksudnya adalah, ia menambah 2 raka`at atas shalat sunnat rawatib sesudah Zhuhur, karena shalat sunnat rawatib Zhuhur itu 4 raka`at sebelumnya dan 2 raka`at sesudahnya. Maka jika ia melakukan dua rak`at shalat sunnat lagi sesudahnya, tercapailah apa yang disebutkan di dalam hadits Ummi Habibah tersebut.
Dan Allahlah Pemberi taufiq, dan semoga Allah tetap mencurahkan shalawat dan salam kepada nabi kita Nabi Muhammad bin Abdullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kepada ke-luarga dan para shahabatnya serta para pengikutnya hingga hari Kiamat.

[sumber : Khutbah Syaikh Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baz]

26 November 2011

Marhaban Yaa Muharram 1433 Hijriah


Alhamdulillah, kami atas nama "Keluarga Besar Abu Afza Al-Ghifari" Mengucapkan Selamat Bertahun Baru Islam yang ke 1433 H, semoga kita berubah /hijrah ke yang lebih baik, mudah-mudahan uraian di bawah ini akan memberikan kita sedikit keyakinan dalam berfikir kita mengenai tahun baru hijriah, aku sungguh sangat-sangat bersyukur dengan keadaan yang diberikan Allah kepadaku tahun ini, saat dimana aku diberikan tanggung jawab yang besar dan ini masih memberi peluang kepada diriku untuk melakukan kesalahan-kesalahan yang sebenarnya aku sadar. Ya Allah ampunilah aku dan ajarilah aku untuk tidak mengulanginya ditahun yang akan datang. Oleh karena itu marilah kita bersama-sama sambut tahun baru Islam dengan banyak-banyak berdo'a, tolong jangan samakan tahun baru Islam dengan tahun baru masehi, tidak ada yang main kembang api ataupun tiup terompet yang terpenting adalah luruskan niat untuk belajar dari masalu untuk masa depan yang indah bersama Allah. Marilah kita sama-sama mengakhiri dan memulai tahun baru ini dengan do'a akhir tahun dan awal tahun. Do'a ada di bawah ini :

Doa Akhir Tahun

Artinya :

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Semoga Allah melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami nabi Muhammad SAW, beserta para keluarga dan sahabatnya.Ya Allah,segala yang telah ku kerjakan selama tahun ini dari apa yang menjadi larangan-Mu,sedang kami belum bertaubat,padahal Engkau tidak melupakannya dan Engkau bersabar (dengan kasih sayang-Mu), yang sesungguhnya Engkau berkuasa memberikan siksa untuk saya,dan Engkau telah mengajak saya untuk bertaubat sesudah melakukan maksiat.Karena itu ya Allah, saya mohon ampunan-Mu dan berilah ampunan kepada saya dengan kemurahan-Mu. Segala apa yang telah saya kerjakan, selama tahun ini, berupa amal perbuatan yang Engkau ridhai dan Engkau janjikan akan membalasnya dengan pahala, saya mohon kepada-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pemurah, wahai Dzat Yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan,semoga berkenan menerima amal kami dan semoga Engkau tidak memutuskan harapan kami kepada-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pemurah. Dan semoga Allah memberikan rahmat dan kesejahteraan atas penghulu kami Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Amin yaa rabbal ‘alamin.

Do'a di atas dibaca 3 kali sebelum masuk waktu Maghrib pada akhir bulan Zulhijjah.




Doa Awal Tahun


Artinya :
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatnya.Ya Allah Engkaulah Yang Abadi, Dahulu, lagi Awal. Dan hanya kepada anugerah-Mu yang Agung dan Kedermawanan-Mu tempat bergantung. Dan ini tahun baru benar-benar telah datang. Kami memohon kepada-Mu perlindungan dalam tahun ini dari (godaan) setan, kekasih-kekasihnya dan bala tentaranya. Dan kami memohon pertolongan untuk mengalahkan hawa nafsu amarah yang mengajak pada kejahatan,agar kami sibuk melakukan amal yang dapat mendekatkan diri kami kepada-Mu wahai Dzat yang memiliki Keagungan dan Kemuliaan. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW,beserta para keluarganya dan sahabatnya. Amin yaa rabbal ‘alamin.

Do'a di atas dibaca 3 kali sesudah Maghrib pada malam satu Muharram

"Ya ALLAH jadikanlah sebaik-baik umur saya pada hujungnya, dan sebaik baik amal saya adalah pada akhirnya dan sebai baik hari adalah pada saat saya menemui-MU.. Dan semoga tulisan sederhana di blog saya ini mampu membuat saya berguna untuk mahlukMU yang lain ya ALLAH.."
"Saya hanyalah hamba, kabulkanlah doa saya ya ALLAH, jika tak KAU kabulkan kepada siapa lagi saya harus meminta ya ALLAH … kepada siapa lagi ya ALLAH, kemana lagi hamba harus berdoa."
"Jika esok atau ditahun hadapan nafas tidak lagi ENGKAU titipkan kepada saya, maka mudahkan saya pada saat sakaratul maut ya ALLAH dan terimalah solat-solat dan ibadah saya yang tak sempurna"  
Bulan Muharam, bulan pertama dalam kalender Hijriah. Bulan ini termasuk salah satu dari keempat bulan haram sebagaimana difirmankan Allah SWT yang artinya,

"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) din yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang
bertakwa." (At-Taubah: 36)

Empat bulan sebagaimana tersebut dalam ayat di atas adalah Muharam, Rajab, Zulkaidah, dan Zulhijah. Dalam empat bulan ini kaum muslimin diharamkan untuk berperang melawan orang kafir.
Keutamaan Muharam "Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Muharam, sedang salat yang paling afdal sesudah salat fardu adalah salat malam."
(HR Muslim)

Ibnu Rajab al-Hambali mengatakan, Muharam disebut dengan syahrullah (bulan Allah) memiliki dua hikmah. Pertama, untuk menunjukkan keutamaan dan kemuliaan bulan Muharam. Kedua, untuk menunjukkan otoritas Allah dalam mengharamkan bulan Muharam. Pengharaman bulan ini untuk perang adalah mutlak hak Allah saja, tidak seorang pun selain-Nya berhak mengubah keharaman dan kemuliaan bulan Muharam.

Di samping itu, bulan Muharam juga memiliki banyak keutamaan. Salah satunya adalah sebagaimana sabda Rasulullah saw. di atas, "Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Muharam, sedang salat yang paling afdal sesudah salat fardu adalah salat malam." (HR Muslim).

Puasa pada bulan Muharam yang sangat dianjurkan adalah pada hari yang sesepuluh, yaitu yang lebih dikenal dengan istilah 'aasyuura. Aisyah--semoga Allah meridainya--pernah ditanya tentang puasa 'aasyuura, ia menjawab, "Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw. puasa pada suatu hari yang beliau betul-betul mengharapkan fadilah pada hari itu atas hari-hari lainnya, kecuali puasa pada hari kesepuluh Muharam." (HR Muslim).
Pada zaman Rasulullah, orang Yahudi juga mengerjakan puasa pada hari 'aasyuura. Mereka mewarisi hal itu dari Nabi Musa. Dari Ibnu Abbas r.a., ketika Rasulullah saw. tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa. Rasulullah saw. bertanya, "Hari apa ini? Mengapa kalian berpuasa?" Mereka menjawab, "Ini hari yang agung, hari ketika Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya serta menenggelamkan Fir'aun. Maka Musa berpuasa sebagai tanda syukur, maka kami pun berpuasa." Rasulullah saw. bersabda, "Kami orang Islam lebih berhak dan lebih utama untuk menghormati Nabi Musa daripada kalian."

Abu Qatadah berkata, Rasulullah saw. Bersabda, "Puasa 'aasyuura menghapus dosa satu tahun, sedang puasa arafah menghapus dosa dua tahun." (HR Muslim, Tirmizi, Abu Daud).

Pada awalnya, puasa 'aasyuura hukumnya wajib. Namun, setelah turun perintah puasa Ramadan, hukumnya menjadi sunah. Aisyah r.ha. berkata, "Rasulullah saw. memerintahkan untuk puasa 'aasyuura sebelum turunnya perintah puasa Ramadan. Ketika puasa Ramadan diperintahkan, siapa yang ingin boleh puasa 'aasyuura dan yang tidak ingin boleh tidak berpuasa 'aasyuura." (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi).

Ibnu Abbas r.a. menyebutkan, Rasulullah saw. melakukan puasa 'aasyuura dan beliau memerintahkan para sahabat untuk berpuasa. Para sahabat berkata, "Ini adalah hari yang dimuliakan orang Yahudi dan Nasrani. Maka Rasulullah saw. bersabda, "Tahun depan insya Allah kita juga akan berpuasa pada tanggal sembilan Muharam." Namun, pada tahun berikutnya Rasulullah telah wafat. (HR Muslim, Abu Daud). Berdasar pada hadits ini, disunahkan bagi umat Islam untuk juga berpuasa pada tanggal sembilan Muharam

Sebagian ulama mengatakan, sebaiknya puasa selama tiga hari: 9, 10, 11 Muharam. Ibnu Abbas r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda, "Puasalah pada hari 'aasyuura dan berbedalah dengan orang Yahudi. Puasalah sehari sebelum 'asyuura dan sehari sesudahnya." (HR Ahmad).

Ibnu Sirrin melaksanakan hal ini dengan alasan kehati-hatian. Karena, boleh jadi manusia salah dalam menetapkan masuknya satu Muharam. Boleh jadi yang kita kira tanggal sembilan, namun sebenarnya sudah tanggal sepuluh. (Majmuu' Syarhul Muhadzdzab VI/406)
Wallahu a'lam.

Abul-Laits Asssamarqandi meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Abbas r.a berkata: Nabi SAW. bersabda yang bermaksud;

Barangsiapa yang berpuasa pada hari Assyuuraa' yakni 10 Muharram, maka Allah akan memberikan kepadanya pahala 10,000 malaikat; dan barangsiapa yang puasa pada hari Assyuuraa', maka akan diberikan pahala 10,000 orang Haji dan Umrah, dan 10,000 orang mati syahid; dan siapa yang mengusap kepala anak yatim pada hari Assyuuraa', maka Allah akan menaikkan dengan rambut satu darjat. Dan barangsiapa yang memberi buka puasa orang mukmin yang berpuasa pada hari Assyuuraa', maka seolah-olah memberi buka puasa semua umat Muhammad SAW. dan mengenyangkan perut mereka.

Sahabat bertanya; Ya, Rasulullah, Allah telah melebihkan hari Assyuuraa' dari lain-lain hari.

Jawab Rasulullah: Benar!.

Allah telah menjadikan langit dan bumi pada hari Assyuuraa',
dan menjadikan Adam juga Hawa pada hari Assyuuraa';
dan menjadikan Syurga serta memasukkan Adam di syurga pada hari Assyuuraa';
dan Allah menyelamatkan dari api neraka pada hari Assyuuraa';
dan menenggelamkan Fir'aun pada hari Assyuuraa';
dan menyembuhkan bala Nabi Ayyub pada hari Assyuuraa'
dan Allah memberi taubat kepada Adam pada hari Assyuuraa';
dan diampunkan dosa Nabi Daud pada hari Assyuuraa';
dan juga kembalinya kerajaan Nabi Sulaiman pada hari Assyuuraa';
dan akan terjadi Qiyamat pada hari Assyuuraa'


Peristiwa 10 Muharram

Dinamakan juga Hari Asyura. Pada hari itu banyak terjadi peristiwa penting yang mencerminkan kegemilangan bagi perjuangan yang gigih dan tabah bagi menegakkan keadilah dan kebenaran.

Bertanya para sahabat : "Wahai Rasulullah ! Apakah kelebihan 10 Muharram berbanding dengan hari-hari yang lain ?" Sabdanya :

1.ALLAH menciptakan alam, langit, bintang dan sebagainya

2.ALLAH menciptakan gunung-ganang pada 10 Muharram

3.Diciptakan lautan pada 10 Muharram

4.Diciptakan Qalam (pena untuk menulis amal manusia) pada 10 Muharram

5.Diciptakan Arasy, Luh Mahfuz pada 10 Muharram

6.Diciptakan Nabi Adam a.s. pada 10 Muharram

7.Dimasukkan Nabi Adam a.s. ke dalam syurga pada 10 Muharram

8.Dilahirkan Nabi Ibrahim a.s. pada 10 Muharram

9.Diselamatkan Nabi Ibrahim a.s. dari api Namrud pada 10 Muharram

10.Diselamatkan anaknya Nabi Ismail a.s. dari sembelihan pada 10 Muharram

11.Ditenggelamkan Fir'aun pada 10 Muharram

12.Diampunkan kesilapan Nabi Daud a.s. pada 10 Muharram

13.Dilahirkan Nabi Isa a.s. pada 10 Muharram

14.Dikeluarkan Nabi Yunus a.s. daripada perut ikan Nun setelah berada di dalamnya selama 40 hari 40 malam pada 10 Muharram

15.Disembuhkan penyakit Nabi Ayub a.s. pada 10 Muharram

16.Diangkat Nabi Isa a.s. ke langit pada 10 Muharram

17.Diterima taubat Nabi Adam a.s. pada 10 Muharram

18.Dianugerahkan tahta kerajaan kepada Nabi Sulaiman a.s.

19.Diciptakan Arasy pada 10 Muharram

20.Awal-awal hujan yang turun dari langit pada 10 Muharram

21.Awal-awal rahmat diturunkan pada 10 Muharram

22.Diselamatkan bahtera Nuh a.s. daripada tenggelam sesudah bumi ditenggelamkan selama enam bulan.pada 10 Muharram


Peristiwa lain

Allah menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa.
Diangkat Nabi Idris a.s. ke langit pada 10 Muharram
Nabi Yusuf dibebaskan dari penjara.
Penglihatan Nabi Ya'qub yang kabur dipulihkan oleh Allah.
Laut Merah terbelah dua untuk menyelamatkan Nabi Musa dan pengikutnya dari tentera Firaun.
Allah menjadikan 'Arasy.
Allah menjadikan alam.
Allah menjadikan Malaikat Jibril.

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Ikrimah berkata; Hari Assyuuraa' ialah hari diterimanya taubatnya Nabi Adam. Dan ia pula hari turunnya Nabi Nuh dari perahunya. Maka ia berpuasa syukur; dan ia pula hari tenggelamnya Fir'aun dan terbelahnya laut bagi Nabi Musa a.s. dan Bani Israil. Maka mereka berpuasa; kerana itu jika dapat; engkau berpuasalah pada hari Assyuuraa'.

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Muhammad bin Maisarah berkata; Bahawa siapa yang melapangkan pada keluarganya pada hari Assyuuraa', maka Allah akan meluaskan rezekinya sepanjang tahun itu.

Sufyan berkata; Telah kami cuba, maka rasakan kebenarannya.

Said bin Jubair dari Ibn Abbas r.a. berkata; Ketika Nabi SAW. baru hijrah ke Madinah, mendapatkan kaum Yahudi puasa pada hari Assyuuraa'; maka tanya kepada mereka tentang itu. Jawab mereka; "Hari itu Allah memenangkan Nabi Musa a.s. dari Bani Israil terhadap Fir'aun dan kaumnya. Maka kami puasa kerana mengagungkan hari ini". Maka sabda Nabi SAW.; "Kami lebih layak mengikuti jejak Musa dari kamu". maka Nabi SAW. menyuruh sahabat supaya berpuasa.

Abul Laits berkata; Dinamakan Assyuuraa' kerana ia jatuh pada sepuluh bulan Muharram. Ada lain pendapat yang mengatakan hari Assyuuraa' kerana Allah telah memuliakan pada Nabi-nabi dengan sepuluh kehormatan;

1.Allah telah menerima taubat Nabi Adam a.s.

2.Allah menaikkan darjat Nabi Idris a.s.

3.Hari berlabuhnya perahu Nabi Nuh a.s.

4.Nabi Ibrahim a.s dilahirkan pada hari Assyuuraa' dan diangkatkan sebagai kholilulLah juga diselamatkan dari api.

5.Allah menerima taubat Nabi Daud a.s.

6.Allah mengangkat Nabi Isa a.s. ke langit

7.Allah menyelamatkan Nabi Musa a.s.

8.Allah menenggelamkan Fir'aun

9.Allah mengeluarkan Nabi Yunus dari perut ikan

10.Allah mengembalikan kerajaan Nabi Sulaiman a.s.


Semua ini terjadi pada hari Assyuuraa'. Sebahagian lain berpendapat, dinamakan hari Assyuuraa' kerana ia kesepuluh dari kemulian-kemulian yang diberikan Allah pada umat ini. Bulan Rejab. Allah menjadikannya sebagai kemuliaan bagi umat ini dan melebihkannya dari lain-lain bulan bagaikan kelebihan umat-umat ini atas lain-lain umat.

Bulan Sya'baan Allah melebihkannya dari lain-lain bulan bagaikan kelebihan Nabi Muhammad SAW. atas semua Nabi.
Bulan Ramadhan Allah melebihkannya dari lain-lain bulan bagaikan kelebihan Allah terhadap semua makhluk.
Lailatul qadr yang terlebih baik dari seribu bulan yang lain.
Hari Idul Fitri sebagai hari pembalasan(penerimaan upah)
Hari-hari sepuluh (1 hingga 10 Zulhijjah) iaitu hari-hari untuk berzikir kepada Allah.
Hari Arafah yang dosanya dapat menebuskan dosa dua tahun.
Hari Idul Adha iaitu hari berqurban.
Hari Jumaat yang termulia dari semua hari.
Hari Assyuuraa' yang puasanya dapat menebus satu tahun dosa.
Dan masing-masing waktu yang tersebut itu ada kemuliaan dari Allah diberikan kepada umat ini untuk membersihkan dan menebus dosa-dosa mereka. Di bawah ini ada beberapa terjemahan hadith untuk panduan kita bersama;

Dari Abu Hurairah r.a. katanya Rasulullah s.a.w. bersabda, "Seutama-utama puasa sesudah puasa bulan Ramadan ialah puasa bulan Muharram dan seutama-utama solat sesudah solat fardu ialah solat malam". (Sahih Muslim)

Abu Musa Al Madani meriwayatkan dari Ibnu Umar r.a.; "Barangsiapa yang berpuasa pada hari Asyura adalah seperti berpuasa setahun dan siapa yang bersedekah pada hari Asyura adalah bagiku bersedekah setahun." (Riwayat Albazzar)

Dari Abu Qatadah Al-Anshari r.a. katanya Rasulullah s.a.w. ditanya orang tentang puasa hari arafah. Jawab baginda, "Semoga dapat menghapus dosa tahun yang lalu dan yang akan datang". Kemudian Nabi ditanya pula tentang puasa hari asyura. Jawab baginda, "semoga dapat menghapus dosa tahun yang lalu".(Sahih Muslim)

Dari Aisyah r.a. katanya "Biasanya orang Quraisy pada masa jahiliah berpuasa pada hari asyura dan Nabi s.a.w. pun berpuasa. Ketika Baginda tiba di Madinah, Baginda juga berpuasa pada hari asyura dan menyuruh orang lain berpuasa juga". (SahihMuslim)

Dari Ibnu Abbas r.a. katanya, ketika Nabi s.a.w. tiba di Madinah, Baginda melihat orang yahudi berpuasa pada hari asyura. Nabi pun bertanya, "Hari apa ini ?". Jawab mereka, "Hari ini ialah hari yang baik. Pada hari ini Allah melepaskan Bani Israil dari musuh mereka, kerana itu Nabi Musa berpuasa kerananya". Sabda Nabi, "Aku lebih berhak daripada kamu dengan Musa". Oleh itu Nabi berpuasa dan menyuruh orang lain berpuasa pada hari asyura.(Sahih Bukhari)

Rasulullah s.a.w. bersabda; "Berpuasa kamu pada hari ke sembilan dan sepuluh Muharam dan jangan meniru cara orang-orang Yahudi." - Riwayat Al Baihaqi 
 

Jasa Web Murah

Reseller hosting

Kabar UPI

Reseller hosting
Reseller hosting
Reseller hosting