Reseller hosting
Tampilkan postingan dengan label di Bulan Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label di Bulan Ramadhan. Tampilkan semua postingan

22 Mei 2012

Hikmah Puasa di Bulan Ramadhan (Sesi 9)


Dalam surat Ath-Thalaq ayat 2 dan 3 Allah SWT berfirman:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Yang artinya:

"Barang siapa bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar kepadanya dan melimpahkan rizki-Nya dengan cara yang tidak ia perkirakan. Barang siapa bertawakkal kepada Allah maka Allah akan memberikan kecukupan kepadanya."

Taqwa berarti menjaga dan menjauhkan diri dari segala sesuatu yang dilarang oleh Allah swt. Penjagaan taqwa merupakan masalah yang sangat penting dan fital dalam kehidupan manusia. Mungkin masing-masing dari kita, dengan cara dan kondisi tertentu, pernah mengalami hakekat dan kebenaran Ayat tersebut di atas. Yaitu bahwa berkat taqwa dan tawakkal kepada Allah swt, maka kita merasakan kemudahan karena pertolongan Allah ketik amenghadapi suatu kesulitan.

Dalam berbagai kitab tafsir disebutkan bahwa Ayat-Ayat ini merupakan salah satu Ayat Al-Quran yang memberikan harapan kepada manusia. Berdasarkan Ayat ini, siapa pun yang menjauhi semua bentuk kejahatan dan dosa, maka jalan keselmatan dari keuslitan akan terbuka untuknya. Oleh karena perbuatan dosa tidak sesuai dengan watak asli atau fitrah suci manusia, maka dosa akan mengotori dan mempersempit jiwa dan hati manusia, sehingga ia akan terhalang untuk mencapai ketinggian dan kemuliaan di sisi Allah swt.

Yang demikian ini adalah suatu hakekat yang ditekankan dalam kamus agama; yaitu barang siapa menjauhi perbuatan dosa maka ia akan memperoleh jalan keselamatan dari segala macam kesempitan dan kesulitan. Dengan taqwa, jiwa manusia akan memperoleh perasaan lapang dan semangat. Dalam kondisi seperti ini, seseorang akan merasakan pintu-pintu rahmat Allah terbuka untuknya, dan Allah pun akan mencurahkan rizki-Nya kepada hamba-Nya ini dengan cara yangtidak ia sangka.

Pada masa Rasul Allah saww, setelah mendengar Ayat ini, sebagian sahabat Nabi tinggal di dalam rumah dan beribadah terus menerus, seraya menunggu kiriman rizki dari Allah swt. Berita tentang perbuatan sebagian sahabat ini sampai ke telinga Rasul Allah saww. Beliau pun meralat kesalahpahaman mereka dan meluruskannya dengan mengatakan, "Jika mereka berbuat seperti itu, maka doa-doa mereka tidak akan dikabulkan. Untuk memperoleh rizki Allah, kalian harus berusaha dan bekerja."

Dengan demikian jelaslah bahwa janji Allah untuk mencurahkan rizki-Nya kepada manusia dan membebaskan mereka dari kesulitan, akan terpenuhi dengan syarat manusia tersebut harus bekerja dan berusaha, seraya menjaga diri jangan sampai terjebak ke dalam perbuatan maksiat dan dosa. Saat itulah Allah akan membukakan jalan kemudahan untuknya dalam memperoleh rizki.

Nasehat lain yang sangat indah dalam Ayat ini ialah tawakkal kepada Allah swt. Tawakkal kepada Allah akan memberikan kekuatan jiwa manusia. Dalam sebuah hadits tentang tawakkal, Rasul Allah saww bersabda sebagai berikut, "Hakekat tawakkal kepada Allah ialah hendaknya manusia tidak menaruh harapan apa pun kepada makhluk, dan hanya untuk Allah-lah ia bekerja dan hanya kepada-Nya ia menggantungkan harapan. Itulah hakekat tawakkal."

*****

Rasul Allah saww bersabda, "Janganlah kalian meninggalkan makan di waktu sahur, meskipun hanya sebutir kurma. Allah swt dan para malaikat-Nya mengucapkan salam kepada para peminta ampun di waktu sahar.Untuk itu bangunlah di waktu sahar dan makanlah, atau minumlah meskipun seteguk air."

Bangun malam di waktu sahur, sekitar satu atau dua jam sebelum subuh, adalah perbuatan yang sangat dianujurkan dalam Islam. Tentu saja bangun dari tidur di saat-saat seperti itu tak lain adalah untuk beribadah kepada Allah swt, baik di bulan Ramadlan, yang sudah barang tentu memiliki keutamaan yang lebih besar, maupun di bulan-bulan lain. Di dalam Al-Quran terdapat sejumlah Ayat yang menganjurkan hal ini.

Ayat-Ayat pertama Surat Al-Muzzammil, memerintahkan kepada Nabi saww untuk bangun di tengah malam dan mengisinya dengan salat malam. Ayat keempat Surat ini juga memerintahkan agar beliau membaca Al-Quran, di waktu sahar ini. Dalam Surat Ali Imran Ayat 17, Allah juga memuji orang-orang yang beristighfar

16 Mei 2012

Hikmah Puasa di Bulan Ramadhan (Sesi 8)


Seorang wartawan Swedia pernah menulis sebuah laporan khusus tentang bulan Ramadhan dan dampak-dampak positifnya, yang kemudian tulisan ini dimuat di koran Dagens Nyheter. Wartawan Swedia yang begitu tertarik kepada ibadah puasa bulan Ramadhan ini, menulis laporannya ini setelah mengamati kehidupan seorang keluarga muslim Swedia dan kegiatan-kegiatan mereka di bulan suci ini. Ia menulis sebagai berikut:

"Bulan Ramadhan bukan sekedar untuk berpuasa sebulan penuh, tapi ia adalah kesempatan untuk menjalin silaturahmi, mempererat hubungan kekluargaan dan persahabatan. Tentu saja bagi kaum muslimin, bulan ini adalah bulan untuk semakin meningkatkan iman dan amal ibadah. Suatu hari di bulan ini, keluarga Matis Hulemberg dan Sofi Ruznquist, serta keluarga Mansour Giguwic yang hidup di Swedia, bersama-sama pergi ke kota Landskrona. Tak lama setelah sampai di tujuan, matahari pun terbenam. Dan itu, bagi keluarga Mansour Giguwic yang muslim, dan menjalankan puasa di bulan Ramadhan ini, merupakan saat untuk berbuka puasa.

Dengan mengucapkan bismillah dan membaca doa pendek dengan suara perlahan dan dengan mimik wajah serta sikap yang tampak sangat khusyu', Mansour Giguwic, memohon kepada Tuhan agar menerima amal ibadah mereka. Kemudian ia dan anggota keluarganya,masing-masing meminum segelas air dan dua atau tiga butir kurma. Setelah berbuka, mereka pun berdiri menghadap ke arah Makkah dan melakukan salat. Dalam keadaan seperti itu, tampak sekali mereka tidak memperhatikan apa pun selain Tuhan mereka.

Besoknya, ketika pagi masih sangat gelap, dan semua orang tengah terlelap dalam tidur, keluarga Gegowic sudah bangun dan menyantap makanan. Rupanya itulah yang disebut sahur. Ketika berbincang-bincang dengan Gegowic, tentang kondisi umat Islam, pembicaraan mengarah kepada masalah terorisme. Gegowic meyakini bahwa peristiwa 11 September memberikan pengaruh yang sangat luas. Sebagian besar muslimin di Landskrona meyakini bahwa setelah peristiwa ini, tekanan terhadap muslimin semakin berat, dan status muslim di Swedia mendatangkan berbagai kesulitan besar. Namun kondisi seperti ini ternyata sangat berperan dalam memperkuat identitas Islam warga muslim di Eropa.

Wartawan koran Dagens Nyheter menambahkan, "Puasa bulan Ramadhan merupakan salah satu ibadah penting umat Islam. Selama waktu tertentu, mereka menjauhi makanan dan minuman. Selama berpuasa ini mereka berusaha menghindari segala macam bentuk cekcok dan pertengkaran. "Saya sedang berpuasa", adalah jawaban yang pada umumnya diberikan oleh muslimin untuk menjauhi perselisihan dan pertengkaran di bulan Ramadhan.

Saya bertanya kepada keluarga muslim ini, "Apakah menjauhi makan dan minum di sepanjang hari tidak menyusahkan kalian? Mendengar pertanyaan ini mereka tertawa manis. Salah satu diantara mereka menjawab, "Berpuasa membuat saya sangat gembira. Ketika menjalan puasa, saya menyadari bahwa saya tengah mentaati perintah Tuhan. Bagi saya perasaan seperti ini sangat nikmat rasanya."

Malam harinya, umat muslimin Swedia berbondong-bondong menuju ke masjid, untuk melakukan salat berjamaah. Menyaksikan hal ini, maka seseorang akan memahami, bahwa bulan Ramadhan bukan sekedar untuk tidak makan dan tidak minum. Tetapi bulan ini adalah bulan untuk berkumpul, salat bersama, dan menjalin persaudaraan satu dengan yang lain. Wartawan Swedia ini juga merasa takjub menyaksikan persamaan, kekompakan dan kerapian barisan jamaah salat.

Seusai salat, wartawan ini kembali menemui Gegowic dan bertanya berbagai hal tentang salat dan masjid, serta persatuan diantara umat muslimin, dan peran bulan Ramadhan dalam membina mental seorang muslim. Gegowic berkata kepadanya, bahwa selesainya bulan Ramadhan dan habisnya kesempatan untuk menjalankan puasa wajib, terasa sangat berat bagi kami. Karena di bulan inilah kami merasakan kedekatan kepada Tuhan dan keindahan hubungan baik diantara sesama manusia, lebih kuat dibanding bulan-bulan lain.

Mansour Gegowic menambahkan, bahwa Rasul Allah saww, Nabi besar umat Islam mengajarkan kepada kami, barang siapa dalam bulan Ramadhan ini tidak memperbaiki akhlaknya dan tetap menunjukkan sifat rendah dan kasar, dan mengucapkan kata-kata yang buruk dan kotor, maka puasanya bukanlah puasa yang sempurna, dan Tuhan tidak akan menerima puasa orang seperti ini.

13 Mei 2012

Hikmah Puasa di Bulan Ramadhan (Sesi 7)



Luqman Al-Hakim menyampaikan banyak nasehat dan petuah yang sangat berharga kepada putranya. Dalam salah satu nasehat kepada anaknya ini, beliau mengatakan, "Wahai anakku, dunia ini bagaikan lautan yang amat dalam, dimana banyak sekali manusia yang binasa di dalamnya. Untuk itu, buatlah kapalmu dari iman, layarnya dari tawakkal kepada Allah, dan bekalnya dari taqwa Ilahi. Jika engkau berhasil mengarungi lautan ini dengan selamat, maka yang demikian itu adalah berkat rahmat Allah. Sedangkan jika engkau binasa, maka yang demikan itu adalah akibat dosa-dosamu."

Di bulan Ramadlan yang penuh berkah ini, membaca Al-Quran memiliki keutamaan yang sangat besar. Selain itu, membaca Al-Quran dengan tadabbur, dengan merenungi dan mendalami makna serta kandungannya, akan membukakan pintu-pintu ilmu dan hikmah bagi pembacanya. Dalam pertemuan kita kali ini, kami ingin mengajak Anda untuk mempelajari sekilas makna dan kandungan yang terdapat dalam Ayat pertama sampai dengan Ayat keempat Surat Al-Mulk.

Allah swt berfirman yang artinya: "Maha Suci Allah yang ditangan-Nya segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup supaya Dia menguji kalian, siapa diantara kalian yang lebihbaik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. Yangtelah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sama sekali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanganlah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah."

Dalam banyak Ayatnya, Al-Quranul Karim berbicara tentang berbagai segi keindahan sistim penciptaan dan mengungkapkan rahasia-rahasia langit dan bumi, matahari, bulan dan bintang-bintang, serta kehebatan penciptaan manusia. Sistim yang sedemikian hebat dan mengagumkan, yang menguasai langit dan bumi serta keajaiban-keajaibannya, merupakan tanda-tanda kagungan Allah swt. Dengan kecepatan tertentu bumi berputar pada porosnya, sekaligus juga berputar mengedari matahari, dengan kecepatan tertentu pula. Meski demikian, bola bumi ini sedemikian tenang sehingga menjadi tempat yang cocok untuk kehidupan manusia dan semua makhluk hidup.

Bumi dimana kita hidup ini, juga diciptakan sedemikian rupa, sehngga sesuai untuk diolah sebagai lahan pertanian; tapi pada saat yang sama, permukaannya sedemikian kuat dan kokoh sehingga manusia dapat mendirikan bangunan-bangunan yang tinggi dan megah. Di bagian dalam tanah terdapat berbagai macam barang tambang dan mineral serta sumber-sumber dan peralatan kehidupan bagi manusia. Telah berjuta-juta tahun lamanya, matahari terbit dari arah timur dan terbenam di arah barat. Terbit dan terbenamnya matahari ini sedemikian indah dan menciptakan berbagai keajaiban yang sangat menarik perhatian manusia.

Kehebatan penciptaan Allah swt, baik di langit, di bumi, di lautan, juga dalam diri manusia sendiri, sungguh sangat agung dan sedemikian jelasnya membuktikan kekuasaan Allah yang sempurna, sehingga manusia yang tidak mau mengakui keberadaan Allah swt dan keagungan-Nya dinyatakan sebagai manusia yang lebih rendah dari pada binatang ternak. Dalam Ayat lain Allah juga mengatakan bahwa manusia seperti ini adalah manusia yang buta dan tuli, sehingga tidak dapat dilakukan apa pun lagi terhadapnya.

Suatu kali terjadi musim kemarau dan paceklik menimpa kaum Israel. Nabi Musa as mengajak umatnya untuk pergi ke bukit Thursina guna berdoa meminta hujan. Sejumlah pengikut Nabi Musa pun datang ke bukit tersebut dan bersama-sama memanjatkan doa dan munajat kepada Allah swt. Namun setelah sekian lama, tak setetes pun air hujan yang turun, dan segala macam doa yang dilakukan, seolah tak ada gunanya. Nabi Musa as bertanya kepada Allah swt, apa gerangan sebab yang membuat doa mereka tidak terkabul.

Datang jawaban dari Allah swt kepada Musa as, bahwa di antara kalian terdapat seorang pemuda telah berbuat dosa yang membuat doa kalian terhalang sehingga tidak terkabul. Mendengar itu, Musa as menghadap kaumnya itu dan menyampaikan permasalahan yang sebenarnya. Setelah itu, si pemuda yang merasa dirinyalah yang dimaksud, karena dia menyadari keadaan dirinya, keluar meninggalkan warga yang bersama Nabi Musa itu. Setelah itu mereka kembali berdoa, dan hujan pun segera turun membasahi bumi yang telah sekian lama kering itu.

Hikmah Puasa di Bulan Ramadhan (Sesi 6)



Muslimin dan muslimat yang berbahagia. Tujuan utama diwajibkannya puasa di bulan Ramadlan ini, sebagaimana ditegaskan sendiri oleh Allah swt, ialah "la'aalakum tattaquun" agar kalian bertakwa. Orang-orang yang bertakwa memiliki derajat yang sedemikian tinggi dan mulia di sisi Allah, sehingga banyak sekali pujian yang diberikan kepada mereka ini. Diantaranya ialah firman Allah swt dalam suratr Az-Zumar, Ayat 73:

وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا

حَتَّى إِذَا جَاؤُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ

"Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan mereka, dibawa ke dalam surga berombong-rombongan. Sampai ketika mereka mendatanginya, pintu-pintunya dibuka dan para penjaganya berkata kepada mereka, "Kesejahteraan bagi kalian. Berbahagialah dan masuklah ke dalamnya untuk selama-lamanya."

Untuk itu marilah kita berusaha dengan sungguh-sungguh, meningkatkan amal ibadah kita di bulan suci ini, dan menjadikannya sebagai pelajaran untuk hidup kita selanjutnya. Artinya, setelah kita berhasil meningkatkan amal ibadah kita di bulan ini, maka yang demikian itu kita pertahankan, bahkan kita tingkatkan lagi di bulan-bulan selanjutnya. dengan demikian, insya Allah kita akan digolongkan ke dalam orang-orang yang bertakwa, dan akan dimasukkan ke dalam surga, kekal selamanya.

Diantara keutamaan bulan Ramadlan ialah diturunkannya beberapa kitab suci di bulan ini. Kitab suci Nabi Ibrahim, yang di dalam Surat Al-A'la Ayat 18 dan 19, disebut sebagai "Shuhuf Ibrahim", diturunkan di malam pertama bulan Ramadlan. Sedangkan kitab suci Taurat diterima oleh Nabi Musa as di hari keenam bulan Ramadlan, di bukti Thursina. Pada tanggal 13 bulan ini pula, Nabi Isa as menerima Injil. Pada akhirnya, di bulan Ramadlan pulalah, penutup segala Nabi, Rasul Allah Muhammad saww, menerima untuk pertama kalinya menerima Ayat-Ayat suci Al-Quranul Karim.

Berdasarkan pendapat para ahli sejarah, semua agama samawi memiliki ajaran yang mewajibkan puasa. Ayat 183 Surat Al-Baqarah juga menegaskan bahwa umat-umat terdahulu pun, tentunya termasuk Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), menerima kewajiban puasa. Bahkan di dalam agama-agama non samawi, seperti Buda dan Konghucu, terdapat ajaran tentang menghindari makan dan minum, dan menganggapnya sebagai ibadahyang paling baik dan paling suci untuk membersihkan diri dan mencapai derajat maknawi yang tinggi. Dalam Taurat, Nabi Musa as mengatakan, "Di bukit Thursina, selama 40 hari 40 malam, aku tidak makan dan tidak minum."

Dalam kitab Taurat juga disebutkan bahwa pada umumnya, kaum Yahudi melakukan puasa ketika ingin mengakui dosa-dosa mereka dan menunjukkan kelemahan dankerendahan diri di depan Allah swt. Karena mereka yakin, dengan puasa dan taubat, mereka akan dapat memperoleh keridloan Allah. Dalam setahun, kaum Yahudi memiliki enam macam puasa wajib, dimana menurut keyakinan mereka, puasa yang paling penting dan paling suci ialah yang mereka sebut dengan nama Yom Kippur. Puasa ini dilakukan selama 25 jam.

Kitab Injil juga menyinggung tentang puasa yang dilakukan oleh Nabi Isa as selama 40 hari 40 malam. Dalam Injil Lukas, disebutkan, kaum Hawariyun, para pengikut setia Nabi Isa as, juga melakukan puasa. Di zaman ini, kaum Armenia gereja Ortodoks, berpuasa selama 40 hari, dan selama itu mereka menghindari makan daging dan segala macam bahan makanan hewani. Poin menarik untuk diperhatikan ialah, bahwa dalam semua agama ini, puasa mengandung arti mencegah dan menghindar. Dan filsafat ibadah ini ialah menentang hawa nafsu, memperkuat mental, dan membina jiwa untuk siap melakukan perbuatan-perbuatan baik.

Di bagan akhir sajian kami ini, kami ingin memperkenalkan kebiasaan yang dilakukan oleh sebagian rakyat Iran, menyambut bulan Ramadlan dan di hari-hari bulan suci ini. Penduduk Iran di Mazandaran, sebuah propinsi di Iran utara, beberapa hari sebelum kedatangan bulan Ramadlan, telah melakukan berbagai persiapan. Mulai dari pembersihan diri, rumah, masjid-masjid dan tempat-tempat pengajian, hingga mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat makanan khusus di sepanjang bulan mulia ini.

Diantara makanan khas yang mereka sediakan di sepanjang bulan suci ini ialah sejenis bubur manis yang mereka buat dari tepung

09 Mei 2012

Hikmah Puasa di Bulan Ramadhan (Sesi 5)


Imam Ali Ar-Ridlo as (Imam kedelepan dari 12 Imam Ahlil Bait as) berkata kepada salah seorang murid dan pengikut beliau, bernama Abu Shalt, "Wahai Abu Shalt, sedapat mungkin berdoa dan beristighfarlah, serta bacalah Al-Quran, dan bertaubatlah kepada Allah swt. Karena saat ini bulan Allah swt (yaitu bulan Ramadlan) telah datang kepadamu. Bersihkanlah dirimu, jangan sampai masih terdapat hak orang lain dalam tanggunganmu, dan singkirkanlah segala bentuk dendam kesumat dari dalam hatimu, dan janganlah kau lakukan dosa apa pun di bulan ini."

Demikianlah nasehat Imam Ali Ar-Ridlo as kepada Abu Shalt yang tentu saja kepada kita semua. Dalam nasehatnya itu, beliau meminta agar kita mempersiapkan diri menyambut kedatangan bulan Allah dengan menggalang tekad di dalam hati untuk meningkatkan amal ibadah di bulan ini dan menjauhkan diri dari segala perbuatan dosa. beliau juga mengingatkan bahwa bulan ini adalah kesempatan yang sangat tepat untuk berdoa, beristighfar dan bertaubat kepada Allah swt.

Saudara sekalian yang berbahagia.sebagaimana manusia biasa, maka sesungguhnya kita menyadari keadaan kita sendiri, bahwa kita ini memiliki banyak dosa; baik dosa akibat perbuatan-perbuatan maksiat yang dengan sengaja kita lakukan, atau tidak sengaja, baik kita kehendaki atau tidak kita kehendaki. Demikian pula dosa akibat meninggalkan kewajiban agama, atau kita melakukannya, tapi tidak dengan sempurna. Singkatnya semua dosa, besar dan kecil, disengaja atau tidak, disadari atau tidak. Maka Allah swt, dengan rahmat-Nya yang luas tak berbatas, memberi kesempatan kepada kita dengan bulan Ramadlan ini, untuk membersihkan diri dari segala dosa tersebut.

Bulan Ramadlan, selain memberikan kesempatan untuk kita membersihkan dosa dan meraih ampunan Allah swt, juga kesempatan untuk kita memperoleh pahala amal ibadah sebanyak-banyaknya. Karena bulan Ramadlan ini, selain merupakan bulan ampunan dan maghfiroh, juga dikenal sebagai bulan penuh berkah dan rahmat. Jika kita buat perumpamaan, maka bulan Ramadlan ini sama sebagaimana sebuah toko yang mengobral dan menjual dengan sangat murah semua barang dagangan yang ada padanya. Sudah barang tentu semua orang akan berbondong-bondong ke toko atau super market tersebut untuk memborong barang di situ, mumpung murah. Demikian pula halnya, di bulan suci ini. hal-hal yang disediakan adalah sama sebagaimana yang disediakan di bulan-bulan lain, yaitu pahala, ampunan dan rahmat.

Bedanya, di bulan ini Allah swt memberikan kemudahan dan kemurahan yang seluas-luasnya, yang tidak diberikannya di bulan-bulan lain. Tentu saja kita mengetahui adanya berbagai kemudahan dan kemurahan itu dari nash, yang tak lain adalah pernyataan Allah sendiri, baik langsung di dalam Al-Quran, ataupun melalui Rasul Allah saww dan Ahlul Bait beliau as. Di antara nash-nash tersebut ialah, yang mengatakan bahwa pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup. Doa dikabulkan, amal ibadah diterima, tidur pun diberi pahala sebagai mana amal ibadah, desahan nafas disamakan dengan tasbih, dan yang paling nyata ialah sebagaimana ditegaskan sendiri oleh Allah di dalam Al-Quran, bahwa di bulan ini terdapat satu malam, dimana amal ibadah di malam itu lebih baik daripada 1000 bulan amal ibadah di bulan-bulan lain.
Memang benar bahwa bulan Ramadlan adalah bulan penuh berkah, rahmat dan ampunan. Akan tetapi semua itu bergantung kepada diri kita sendiri juga. Karena bagaimanapun, semuanya itu tidak mungkin datang dan diberikan kepada seseorang dengan cuma-cuma. Berkaitan dengan hal ini banyak sekali hadits dari Rasul Allah saww dan Ahlil Bait beliau as, yang mengingatkan kita agar menjaga diri untuk tidak menjadi orang yang merugi, yaitu orang yang tidak memperoleh apa pun dari bulan Ramadlan ini. Untuk itu, marilah kita benahi diri kita menghadapi bulan suci ini, mumpung masih banyak kesempatan, kita bulatkan tekad untuk membersihkan diri dari dosa, di bulan ini dan untuk selamanya, meningkatkan amal ibadah di bulan ini dan untuk selamanya.

Di bagian akhir sajian kami kali ini kami ingin membahas sekilas tentang ciri-ciri hamba-hamba Allah swt, sebagaimana yang disebutkan dalam Surat Al-Rurqan mulai Ayat 63 sampai dengan 68. Dalam Ayat-Ayat ini dapat kita pelajari bahwa hamba Allah yang sesungguhnya adalah orang yang bersifat rendah hati dalam pergaulan dengan sesama manusia; dan ia selalu menunjukkan reaksi yang tepat dan bijak terhadap orang yang berlaku jahat terhadapnya.

Sifat selanjutnya hamba Allah, yang disebutkan dalam Ayat-Ayat ini, ialah bahwa ia mengisi waktu-waktu malamnya dengan sujud dan ibadah kepada Allah swt; serta memohon ampun dan perlindungan dari siksa api neraka. Karena ia tahu dengan pasti dan keyakinan penuh bahwa azab neraka adalah yang benar-benar merupakan kerugian besar, dan bahwa neraka adalah tempat yang paling buruk dan hina.

Selanjutnya Ayat-Ayat Allah ini mengatakan bahwa seorang hamba Allah yang baik, tidak suka membelanjakan harta kekayaannya secara berlebihan dan tidak pernah menghambur-hamburkannya dengan sia-sia. Akan tetapi sebaliknya, ia juga tidak miliki sifat kikir dan terlalu mengirit dalam membalanjakan hartanya. Jalan tengah diantara dua jalan itulah yang akan dipilihnya. Dengan demikian, seorang hamba Allah yang baik, tidak akan berlebihan dalam membelanjakan hartanya, tidak pula kikir, baik kikir terhadap diri sendiri, maupun terhadap orang lain.

Seorang hamba Allah juga tidak akan mungkin menyembah selain Allah, karena ia memiliki iman dan tauhid yang kuat, dan tidak akan mau membunuh orang lain tanpa alasan yang dibenarkan oleh agama. Karena jiwa setiap orang adalah milik Allah, dan hanya Allah-lah yang berhak mematikan seseorang. Untuk itu, seseorang boleh membunuh dan mematikan orang lain, hanya jika agama dan hukum Allah membenarkannya.

Hikmah Puasa di Bulan Ramadhan (Sesi 4)


Sejak beberapa tahun terakhir ini umat muslimin selalu menjadi bulan-bulanan dan sasaran propaganda beracun negara-negara Barat, yang berusaha menampilkan wajah muslimin sebagai manusia-manusia yang beringas, kejam dan primitif. Diantara tujuan semua itu ialah membendung laju pertumbuhan dan penyebaran agama Islam, yang sesungguhnya penuh dengan daya tarik, terutama di dunia Barat sendiri.

Akan tetapi, gambaran yang diberikan oleh Al-Quranul Karim tentang seorang muslim, adalah gambaran seorang yang memiliki sikap lemah lembut dan logis. Seorang muslim membangun gaya hidupnya berdasarkan petunjuk-petunjuk Al-Quran yang indah, dan di bawah sinar ajaran-ajarannya yang memberikan kebahagiaan, ia membairkan makna dan arah di dalam hidupnya. Salah satu ajaran Al-Quran ialah berkata baik dan jujur.

Di sebagian dari Ayat 83 Surat Al-Baqarah, kita baca firman Allah yang artinya, "Dan katakanlah hal-hal yang baik kepada manusia." Seorang muslim memandang dirinya berada dalam ikatan yang kuat dengan seluruh manusia, dan meyakini bahwa semua manusia adalah ciptaan Allah swt, dan memiliki kehormatan di sisi-Nya. Untuk itu tidak ada siapa pun yang berhak melanggar kehormatan orang lain, dan ketika bersikap terhadap orang lain, bahkan dalam berkata-kata kepadanya, ia akan bersikap dengan baik dan benar.

Oleh sebab itu, pengikut hakiki Al-Quran akan selalu berusaha menjalin hubungan yang baik dengan semua manusia, dan memenuhi kehidupan bermasyarakatnya dengan kebaikan dan kasih sayang. Pada hakekatnya, ajaran-ajaran Islam menganggap bertutur kata dengan baik dan sopan sebagai sifat mulia seorang manusia beriman. Dalam salah satu haditsnya, Rasul Allah saww bersabda, "Wajah ceria dan bibir tersenyum, adalah kemuliaan lain yang harus diperhatikan oleh seorang muslim dalam bersikap kepada orang lain."

Al-Quranul Karim juga mengatakan bahwa diantara ciri-ciri seorang mukmin yang baik ialah mendengarkan kata-kata orang lain dan mengikuti yang baik. Dalam Ayat 18 Surat Az-Zumar, Allah memuji orang yang mendengar perkataan orang lain lalu memilih yang terbaiknya untuk diikuti, dengan mengatakan bahwa mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk dan orang-orang yang berakal. Dengan demikian, seorang muslim adalah seorang yang berpikiran terbuka, tidak sempit hati, sehingga mau mendengarkan perkataan orang lain. Akan tetapi, seorang muslim juga memiliki sikap kritis, kemampuan mengolah dan memilih. Dan ia akan mengikuti apa saja yang baik dan sesuai dengan keyakinannya, dan menolak apa saja yang bertentangan dan tidak sesuai dengannya. Semua itu ia lakukan dengan sikap yang logis, bijaksana dan jauh dari kekerasan.

Jika kita perhatikan dengan teliti, maka akan kita saksikan bahwa dunia dengan segala keindahannya ini adalah fana dan tidak kekal. Seseorang yang sedemikian cinta kepada bunga, tidak akan dapat berlama-lama menikmati keindahan serta semerbak wanginya, karena segera angin mamiri akan bertiup membuatnya layu, lalu gugur berserakan di atas bumi. Menurut Imam Ali as, "Dunia adalah tempat yang telah diliputi oleh berbagai bala dan bencana. Keadaan dan kondisinya tidak pernah tetap,karena ia selalu dalam keadaan berubah-ubah dan tidak stabil, sehingga orang yang mengikatkan diri kepadanya tidak akan selamat.

Sesungguhnya seseorang mencari kekasih yang kekal, sehingga ia akan dapat menambatkan hati kepadanya untuk memperoleh ketenangan jiwa selamanya. Allah swt adalah hakekat yang tak terbatas dan paling agung, dimana seluruh kehidupan alam yang tampak ini, merupakan bukti keagungan dan kemaha-sempurnaan kekuasaan-Nya. Iman kepada Tuhan yang Esa akan mengalirkan cinta dan ma'rifat ke seluruh wujud manusia. Para ahli suluk dan irfan mengatakan, "Mengenal Allah akan mendatangkan cinta kepada-Nya, dan kunci cinta kepada Allah ialah dzikir dan mengingat-Nya."

Dzikir adalah sebuah amalan hati. Seseorang bertanya kepada Rasul Allah saww, "Aku ingin menjadi hamba yang khusus dan istimewa di sisi Allah swt. Bagaimanakah caranya?" Rasul Allah saww menjawab, "Banyak-banyaklah berdzikir mengingat Allah swt, maka engkau akan menjadi hamba yang khusus di sisi-Nya." Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat tepat sekali untuk berdzikir dan mengingat Allah. Di bulan ini pintu-pintu rahmat Ialhi, dibuka untuk semua orang, sehingga doa dan munajat seseorang akan terkabulkan.

Membaca Al-Quran, doa-doa harian, doa pembuka atau iftitaah, doa sahar dan istighfar, adalah bagian dari dzikir-dzikir yang sangat dianjurkan untuk dibaca di bulan Ramadhan ini. Untuk itu marilah kita baca Al-Quran dan doa-doa yang diajarkan oleh Rasul Allah saww dan para Imam Ahlul Bait as, terutama doa-doa yang khusus dibaca di bulan mulia ini, dalam rangka berdzikir kepada Allah, untuk membersihkan jiwa dan menyucikan hati kita. Tak lupa kita berdoa, memohon pertolongan Allah agar menjadikan kita termasuk diantara orang-orang yang disucikan dengan Ramadhan ini, sehingga kita akan keluar dari bulan ini sama seperti bayi yang baru saja keluar dariperut ibunya.

08 Mei 2012

Hikmah Puasa di Bulan Ramadhan (Sesi 3)


Dalam suasana penuh maknawi bulan suci Ramadhan, setiap orang berusaha menemukan jalan perbuatan baik untuk bertaqarrub kepada Allah swt. Dengan harapan seluruh muslimin mendapatkan taufiq dan inayah dari Allah swt untukdapat melaksanakan ibdah di bulan ini dengan sebaik-baiknya, kami awali jumpa kita ini dengan mengutip sebagian doa Imam Sajjad as, yaitu doa yang beliau ucapkan dalam menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan. Saudara sekalian, setelah selingan musik ini, kami ajak Anda untuk mengikuti uraian kami pada sebagian dari doa Imam Sajjad as tersebut:

"Segala puji dan syukur bagi Allah yang telah memberi petunjuk kepada kita untuk memuji-Nya dan menjadikan kita dari ahli-Nya, agar kita mensyukuri nikmat-nikmat-Nya, lalu Ia akan memberikan pahala kepada kita, pahala orang-orang yang berbuat baik. Segala puji bagi Allah yang telah mengaruniakan kepada kita agama-Nya, dan menjadikan kita diantara pengikut-Nya; memasukkan kita ke jalan-jalan kebaikan-Nya; agar kita menempuh jalan-jalan tersebut dengan karunia-Nya menuju keridloan-Nya. Segala puji bagi-Nya, pujian yang Ia terima dari kita, dan membuat-Nya meridloi kita.

Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan diantara jalan-jalan itu, bulan-Nya, yaitu bulan Ramadhan, bulan puasa, bulan Islam, bulan kesucian, bulan pembersihan, bulan ibadah, yang diturunkan di dalamnya Al-Quran, sebagai petunjuk kepada manusia dan penjelas dari petunjuk dan pembeda antara haq dan batil. Lalu Allah menjelaskan keutamaan-keutamaannya dibanding bulan lain, dengan memenuhi bulan ini dengan berbagai kehormatan dan keutamaan yang terang. Allah mengharamkan di bulan ini beberapa hal yang halal di bulan-bulan lain, untuk mengagungkannya, dan melarang makan minum di bulan ini untuk memuliakannya. Kemudian Allah memuliakan satu malam diantara malam-malamnya lebih baik daripada seribu bulan, dan menyebutnya "lailatul qadar", yang turun di malam itu para malaikat dan Ruh, dengan ijin Tuhan mereka dengan segala urusan. Kesejahteran yang penuh berkah hingga terbit fajar, bagi siapa pun diantara hamba-hamba-Nya, sesuai dengan keputusannya yang kokoh kuat.

Ya Allah limpahkanlah shalawat dan salam atas Muhammad dan keluarganya. Tunjukilah kami untuk dapat memahami keutamaannya, dan keagungan kedudukannya, dan menjaga diri dari apa yang Kau larang. Dan tolonglah kami untuk melakukan puasanya dengan mencegah anggota tubuh ini dari kemaksiatan kepada-Mu, dan menggunakannya untuk hal-hal yang mendatangkan ridlo-Mu. Sehingga kami tidak mendengarkan dengan telinga kami hal-hal yang sia-sia, dan tidak melayangkan pandangan kami ke hal-hal yang mendatangkan dosa, tidak pula menjulurkan tangan-tangan kami kepada hal-hal yang terlarang, dan tidak melangkahkan kaki-kaki kami ke hal-hal yang kau cegah; tidak pula memenuhi perut kami kecuali dengan hal-hal yang Kau halalkan; dan tidak menggerakkan lidah kami kecuali untuk hal-hal yang perintahkan."

Demikianlah doa Imam Sajjad as yang panjang, dimana dengan doa tersebut, sesungguhnya beliau menjelaskan bahwa bulan suci ini penuh dengan berbagai keutamaan, kemuliaan dan keagungan. Dengan doa ini, beliau juga mendorong seluruh muslimin agar menaruh perhatian dengan sungguh-sungguh untuk melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Untuk itu, seorang muslim mesti menyandarkan diri kepada Allah dan memohon taufiq dan inayah-Nya agar dapat memanfatakan bulan Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya.

Lihatlah betapa Imam Ali Zainal Abidin memohon kepada Allah swt agar membantunya untuk mengendalikan anggota tubuh dan menjauhkannya dari kemaksiatan, dan menggunakannya hanya untuk hal-hal yang diridoli oleh Allah. Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa berpuasa itu bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Akan tetapi seluruh anggota tubuh pun harus kita ajak untuk berpuasa. Telinga harus berpuasa dari mendengarkan apa saja yang bersifat laghu atau sia-sia. Mata juga harus berpuasa dari pandangan-pandangan yang mendatangkan dosa. Tangan harus berpuasa dari perbuatan-perbuatan jahat, dan kaki harus berpuasa untuk tidak melangkah ke tempat-tempat maksiat.

Walhasil, puasa yang sesungguhnya ialah puasa yang kita lakukan lahir dan batin. Dan hanya dengan puasa seperti itulah kita akan dapat menikmati hidangan-hidangan yang disajikan oleh Allah di bulan ini, yaitu ampunan, rahmat, berkah, kenikmatan akherat dan kemuliaan-kemuliaannya. Bukankah Rasul Allah saww juga telah mengingatkan umat muslimin dengan haditsnya yang terkenal, yang artinya, "Banyak orang yang berpuasa akan tetapi ia tidak mendapatkan apa pun kecuali lapar dan dahaga. Dan banyak orang yang berjaga di malam hari, tetapi tidak mendapatkan apa pun kecuali lelah dan kantuk." Untuk itu, sudah sepatutnyalah kita memohon kepada Allah swt, sebagaimana yang diajarkan oleh Imam Ali As-Sajjad as.

Sesungguhnya pelajaran terbesar yang diberikan oleh bulan Ramadhan, dimana seorang muslim wajib berpuasa selama satu bulan penuh, ialah agar dia dapat menguasai dan mengalahkan hawa nafsunya. Di dalam bulan Ramadhan ini, seorang muslim diminta untuk menjauhi makan dan minum, juga suami istri diminta untuk menjauhi hubungan kelamin selama menjalankan puasa. Ketiga hal tersebut, yaitu makan, minum dan hubungan seksual, tak lain adalah merupakan kenikmatan-kenikmatan duniawi yang paling banyak dicari dan dikejar oleh manusia. Segala macam kenikmatan duniawi lain, seperti kekayaan dan kedudukan, tak lain akan berakhir pada tiga kenikmatan tersebut.

Untuk itulah jika seseorang sudah mampu menahan hawa nafsunya dari tiga macam kenikmatan duniawi itu dengan baik, maka diharapkan ia juga akan mampu mengendalikan hawa nafsunya terhadap kenikmatan-kenikmatan duniawi lainnya. Dan jika seseorang telah mampu mengalahkan hawa nafsu dan menjauhkannya dari gemerlap dan lezatnya kesenangan duniawi, maka bisa dipastikan ia akan semakin mendekat kepada kenikmatan-kenikmatan maknawi dan kesenangan-kesenangan ukhrawi. Hal itu adalah karena kecintaan berlebihan kepada kenikmatan dan kesenangan duniawi, akan mencegah, bahkan menjauhkan seseorang dari jalan-jalan yang disediakan untuk menuju kepada kenikmatan, kesenangan dan kemuliaan ukhrawi.

07 Mei 2012

Hikmah Puasa di Bulan Ramadhan (Sesi 2)


Mengenal bulan Ramadlan dan kedudukannya, sudah pasti akan memberikan semangat dan kekuatan mental dan jasmani untuk seseorang dapat memanfaatkan dengan sebaiknya bulan yang penuh berkah ini. Masih banyak diantara kita yang tidak mampu memahami kemuliaan dan segala macam berkah yang terkandung dalam bulan suci ini. Untuk itulah rupanya Rasul Allah saww, yang memahami keadaan umatnya ini, berusaha membantu agar umat muslimin , minimal yakin sajalah bahwa bulan ini benar-benar bulan yang mulia, bulan yang mendatangkan berbagai macam keuntungan maknawi, bahkan materi, kepada muslimin.

Rasul Allah saww bersabda, "Jika seseorang memahami apa yang terkandung di dalam bulan Ramadlan, sudah pasti, dengan segenap wujudnya, ia akan memohon kepada Allah agar sepanjang tahun dijadikan sebagai bulan Ramadlan semua." Jadi seharusnya, kalaupun seseorang tidak memahami apa yang terkandungan dalam bulan suci Ramadlan, akan tetapi hadits Rasul Allah saww ini jelas merupakan jaminan yang akan membuat setiap orang berharap agar setiap tahun terdiri dari satu bulan semua, yaitu bulan Ramadlan. Yang demikian ini tentu sekedar untuk menggambarkan betapa mulianya bulan ini.

Diantara sifat-sifat bulan Ramadlan ialah bulan yang penuh berkah, yang dalam bahasa Arab disebut "شهر المبارك". Dalam banyak kesempatan, Rasul Allah saww menyebut bulan ini sebagai bulan yang penuh berkah. Di setiap malam pertama bulan Ramadlan, Rasul Allah saww memanjatkan doa dan berkata, "Wahai bulan yang penuh berkah, segala puji dan syukur hanyalah bagi Allah, yang telah melimpahkan karunianya kepada kami melaluimu."

Kata-kata "مبارك" mengandung arti sesuatu yang mendatangkan kebaikan yang banyak dan bersifat kekal. Al-Quranul Karim juga menggunakan kata-kata ini dalam banyak Ayatnya. Dzat Allah yang Suci, juga disebut sebagai Dzat yang penuh berkah, karena merupakan sumber segala kebaikan. Dalam istilah Al-Quran, rumah Allah, Masjid Al-Aqsha, Malam Qadar, juga Al-Quran sendiri, juga disebut sebagai "mubarak".

Bulan Ramadlan disebut sebagai bulan yang penuh berkah, karena ia mengandung segala macam kebaikan yang melimpah, dimana jika dipahami dan dimanfaatkan dengan baik, maka ia akan mampu melahirkan manusia-manusia suci, lahir dan batin. Dengan bulan Ramadlan, manusia ditempa untuk memiliki semangat kuat melawan daya tarik hawa nafsu yang berusaha menyeret manusia ke lembah kehinaan dan kenistaan. Sedangkan puasa dan amal ibadah lain di dalam bulan Ramadlan, mengajak manusia ke puncak takwa dan iman.

Bulan Ramadlan adalah bulan pembangunan manusia dengan iman dan takwa yang seutuhnya. Di bulan ini terbuka peluang selebar-lebarnya bagi setiap orang untuk membebaskan diri dari hiruk pikuk kehidupan dan segala faktor penyebab stres, serta kesibukan mengejar kesenangan duniawi yang membuatnya lalai. Bulan Ramadlan mengajak manusia untuk kembali ke jalan lurus yang akan membawanya menuju kebahagiaan dan kemuliaan kepribadiannya.

Saudara sekalian yang berbahagia. Di hari-hari selama bulan Ramadlan ini, kami akan menemani Anda dalam acara ini yang akan memperkenalkan kepada Anda ciri-ciri manusia muslim, sebagaimana yang diperkenalkan dengan indahnya di dalam Al-Quran, Kitab Allah yang diturunkan untuk memberikan petunjuk kepada seluruh manusia, agar dapat menempuh jalan terang menuju kesempurnaan dan kebahagiaan yang hakiki.

Untuk menempuh jalan hidup ini dengan sebaik-baiknya, seseorang haruslah memiliki program dan rencana-rencana yang telah tersusun dengan baik dan benar. Para pakar penyusun program dan menejemen mengatakan bahwa setiap program haruslah terdiri atau mengandung tiga tahap atau bagian. Pertama: mengenal fasilitas dan batasan-batasan yang ada. Kedua: menentukan tujuan-tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Ketiga: memilih metode terbaik untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.

Sebagai pemberi program dan petunjuk sempurna bagi kehidupan manusia, agama Islam sangat menekankan masalah pengaturan dan penyusunan program hidup manusia. Imam Ali as berkata, "Wahai manusia, kehidupan dunia yang dijalani tanpa aturan dan program yang baik, tidak akan memberikan kebaikan sedikit pun." Dalam ucapannya yang lain, Imam Ali as menekankan agar setiap orang membagi-bagi waktunya, masing-masing untuk pekerjaan dan tugas tertentu. Sehingga dengan demikian, semua pekerjaan dan tugas akan dapat dilaksanakan dan mendatang keuntungan sebaik-baiknya.

Seorang muslim yang telah menyusun waktu hidupnya dengan baik, bisa dipastikan akan membagi-bagi dan menyusun pekerjaan serta tugas-tugasnya berdasarkan prioritasnya. Artinya, ia pasti akan mendahulukan dan memperhatikan dengan baik pekerjaan-pekerjaan yang lebih penting, dan tidak akan membiarkan waktunya habis untuk pekerjaan dan tugas-tugas yang tidak penting. Ia akan memahami, sebagaimana diajarkan oleh Al-Quran, bahwa setiap orang bergantung kepada usaha dan kerjanya sendiri; dan seseorang tidak akan memperoleh apa pun kecuali yang ia kerjakan.

Seorang muslim adalah orang yang giat bekerja dan berusaha dengan motifasi dan semangat tinggi; karena ia menyadari bahwa menganggur dan malas bekerja, tidaklah sesuai dengan kepribadiannya sebagai seorang manusia. Dan oleh karena memiliki semangat kerja yang tinggi, yang dilandasi pula oleh iman dan tawakkal kepada Allah swt, maka kegagalan apa pun dalam usaha, tidak akan membuatnya berputus asa. Semangat kerja yang dilandasi oleh iman dan tawakkal inilah yang membuat umat muslimin di masa lalu berhasil mencapai kejayaan dan kegemilangan besar.

Dalam sejarah disebutkan bahwa seorang muslim meninggalkan seluruh pekerjaan dan usahanya sehari-hari, dan memusatkan seluruh waktu siang malamnya hanya untuk beribadah , berdoa dan bermunajat kepada Allah swt. Imam Shadiq as, ketika mendengar berita tentang orang ini, menyatakan penyesalan dan kekecewaan, lalu berkata, "Tidakkah orang itu mengetahui bahwa seseorang yang tidak pernah berusaha dan bekerja, doanya tidak akan dikabulkan?"

Suatu hari seseorang bertanya bertanya kepada Aristoteles, "Mengapa Anda sedikit sekali makan?" Dia menjawab, "Aku makan sekedar untuk tetap hidup. Adapun sebagian orang merasa bahwa hidup adalah untuk makan, sehingga ia makan dalam jumlah banyak. Akan tetapi orang yang banyak makan, tidak akan pernah menjadi manusia yang cerdas dan pandai."

Berkenaan dengan hal ini, Islam telah memberikan berbagai jalan untuk manusia agar ia dapat menundukkan hawa nafsunya. Diantaranya ialah berpuasa, yang sesungguhnya mengajarkan kepada manusia untuk menghindari banyak makan. Rasul Allah saww bersabda, "Janganlah kalian mematikan hati kalian dengan banyak makan. Sesungguhnya hati akan mati karena banyak makan, sebagaimana tanaman yang mati karena kebanyakan air."

06 Mei 2012

Hikmah Puasa di Bulan Ramadhan


Berkat rahmat dan karunia-Nya kita kembali diberi kesempatan untuk bertamu dan menghadiri hidangan suci yang disuguhkan oleh Allah Rabbul alamin, di sepanjang bulan suci Ramadlan ini. Suguhan-suguhan yang dihidangkan oleh Allah di bulan yang mulia ini, tak lain ialah rahmat, ampunan, berkah, pelipatan pahala, terbukanya pintu-pintu surga, tertutupnya pintu-pintu neraka, pembebasan dari siksa api neraka, dan sebagainya. Undangan untuk menghadiri perjamuan besar yang suci ini telah disebarkan, dan Allah swt telah membukakan pintu selebar-lebarnya untuk siapa saja yang bersedia datang memenuhi undangan-Nya ini. Siapakah gerangan manusia yang lebh celaka daripada mereka yang dengan bodohnya mengabaikan undangan Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang ini?

Bagaimana caranya kita menghadiri undangan ini dan mereguk semua hidangan yang disediakan dengan melimpah ruah ini? Tak lain ialah dengan mengamalkan perintah dan memenuhi seruan Allah untuk melaksanakan kewajiban bulan suci ini, yaitu pusa, meninggalkan makan dan minum mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Selain makan dan minum, ada lagi beberapa perbuatan yang harus ditinggalkan dan tidak boleh dilakukan selama berpusa itu. Tentu saja kita berusaha untuk tidak merasa puas hanya dengan meninggalkan makan, minum dan beberapa perbuatan lain. Dalam rangka meraih jamuan yang disediakan sebanyak mungkin, Allah swt telah menyediakan berbagai amalan sunnah yang mesti dilakukan. Mulai dari salat malam, dan solat-solat sunnah lain di bulan suci ini, membaca Al-Quran, membaca dzikir dan doa-doa sebagaimana yang diajarkan dalam Islam, sedekah kepada fakir miskin, membantu mereka untuk ikut melaksanakan ibadah puasa dengan baik, dan masih banyak lagi amalan yang sunnah-sunnah, yang sangat ditekankan untuk dilakukan di bulan Ramadlan ini.

Kita berdoa kepada Allah swt, memohon pertolongan, inayah dan taufik-Nya, agar kita dapat memenuhi undangan Allah dan menghadiri jamuan suci yang disediakan-Nya, serta dapat menyantap hidangan-hidangan rohani dan maknawi yang melimpah ruah tiada habisnya ini, sehingga kita akan keluar dari jamuan suci ini dengan membawa sepenuh berkah, rahmat, ampunan dan karunia Ilahi Rabbi. Lalu, dengan menjadikan semua itu sebagai bekal untuk melanjutkan perjalanan hidup ini, insya Allah kita akan sampai ke tujuan yang diinginkan, yaitu derajat taqwa yang setinggi-tingginya dan menjadi hamba Allah yang sebenarnya. Semoga Allah menjauhkan kita kerugian orang-orang yang merugi, yang keluar dari bulan suci ini tanpa memperoleh apa pun kecuali lapar dan dahaga.

Sebagaimana acara-acara khusus bulan Ramadlan yang sudah-sudah, kali ini pun kita hiasi acara kita ini dengan khutbah Rasul Allah saww, yang beliau sampaikan menyambut kedatangan bulan suci ini, dan mengingatkan kepada umat beliau kepada kemuliaan dan berkahnya yang melimpah. Kita dengarkan cuplikan khutbah Nabi saww tersbeut setelah selingan musik sekilas berikut ini.

"Wahai manusia, telah tiba bulan Allah dengan berkah, rahmat dan ampunan, menjemput kalian. Bulan yang merupakan sebaik-baik bulan di sisi Allah. Hari-harinya adalah sebaik-baik hari. Malam-malamnya adalah sebaik-baik malam. Di bulan ini kalian diundang untuk bertamu kepada Allah. Di bulan ini, desahan nafas kalian akan dihitung sebagai tasbih, tidur kalian sebagai ibadah, amal kalikan diterima.

Jasa Web Murah

Reseller hosting

Kabar UPI

Reseller hosting
Reseller hosting
Reseller hosting