"Alkisah, ada seorang pencuri kerudung di sebuah swalayan di kota
Surabaya. Sang pencuri akhirnya tertangkap Satpam dan digebuki massa
beramai-ramai. Namun betapa mengagetkan, tatkala dalam penjelasannya,
ia mengatakan, terpaksa melakukan karena ingin melihat dua putrinya
bahagian di saat Hari Raya Idul Fitri. Ia mengaku tak ingin menanggung
malu jika pulang tanpa membelikan baju baru di bulan Suci itu"
Apapun
profesi dan status sosial seseorang, mereka semua merindukan
kehidupan yang berbahagia di dunia ini dan berlanjut pada kehidupan
nanti. Kehidupan dengan keadaan dan sistem waktu lain yang pasti
terjadi.
Sekalipun dia seorang penjahat, dia tidak ingin anak
keturunannya mewarisi perbuatannya. Itu berarti fitrah manusia, senang
kepada kebaikan yang dikenali hati (al-Ma’ruf) dan benci kepada kejahatan yang diingkari hati (al-Munkar).
Ia berharap bahagia di dunia dan selamat di akhirat. Karena dipaksa
oleh keadaan tertentu, ia berbuat jahat. Itupun demi kebahagiaan
orang-orang terdekatnya. Sekalipun ia merasa ada gugatan batin (nafsu lawwamah) atas perbuatannya.
Ada
sebagian orang yang berpandangan, manusia hidup dunia ini akan
berbahagia manakala semua kebutuhan jasmani dan rohaninya terpenuhi.
Mulailah orang mendaftar kebutuhan-kebutuhan lahir dan batin tersebut. Kebutuhan jasmani
: makan dan minum dengan kenyang, pakaian yang cukup, hidup enak,
tidur nyenyak, tempat tinggal yang layak, kebutuhan seksual dan
kesehatan. Kebutuhan rohani : kasih sayang, rasa aman, harga diri, kebebasan, keberhasilan, rasa ingin tahu terpuaskan.
Doa
sapu jagat (memuat cakupan yang luas) yang sering menjadi doa banyak
orang adalah mendambakan sukses di dunia dan akhirat.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka" (QS. Al-Baqarah (2) : 201).
Doa
diatas menghimpun segala kebaikan/kenikmatan dunia dan menjauhkan
segala kerumitannya. Karena kebaikan itu mencakup segala permintaan di
dunia, seperti kesehatan, rumah yang luas, kendaraan, istri shalihah,
rezeki, ilmu yang bermanfaat, amal shalih, perjalanan yang mudah,
pujian dan reputasi yang baik.
Sedangkan kebaikan di akhirat,
lebih tinggi dari itu. Misalnya, masuk surga beserta implikasinya
berupa keselamatan dari ketakutan yang sangat hebat dan kemudahan
hisab. Adapun keselamatan dari neraka menuntut kelancaran dari
berbagai sarananya ketika di dunia ini, seperti menjauhi berbagai
perkara yang diharamkan, dosa, perkara syahwat dan syubhat dan haram.
Al-Qasim Abu Abdurrahman berkata, Barangsiapa yang dianugerahi hati yang selalu bersyukur (qalban syakiran), lisan yang senantiasa menyebut nama Allah SWT (lisanan dzakiran) , dan diri yang sabar (nafsan shabiran),
berarti ia diberi kebaikan dunia dan akhirat serta dipelihara dari
neraka. Oleh karena itu, terdapat sunnah yang mendorong pengamalan doa
diatas.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas, Sesungguhnya
Rasulullah saw menengok seorang muslim yang telah menjadi seperti anak
burung karena kemahnya. Rasulullah saw berkata kepadanya, “Apakah
kamu memohon sesuatu kepada Allah atau meminta sesuatu kepada-Nya ?
Orang itu menjawab, Ya, Aku berdoa, Ya Allah, perkara yang akan Engkau
siksakan kepadaku di akhirat itu timpakanlah kepadaku di dunia. Maka
Rasulullah saw bersabda, Mahasuci Allah. Engkau tak kuat menerimanya.
Mengapa kamu tidak berdoa, Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di
dunia dan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka ?. Anas
berkata, Kemudian dia mengucapkannya, dan Allah menyembuhkannya.” (HR. Muslim).
Demikian
pentingnya kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat, dalam
posisi bagaimanapun, status sosial apapun, seseorang dalam
kehidupannya berusaha semaksimal mungkin, pantang menyerah dan tidak
kenal lelah menciptakan kondisi yang mendukung terpenuhinya
kebutuhan-kebutuhan tersebut.
Persoalannya, pernahkah manusia
dalam kehidupannya merasakan keadaan yang bisa memenuhi kebutuhannya
secara utuh, terus-menerus dan permanen ?. Jawabannya : jelas tidak
mungkin. Kondisi di dunia ini fluktuatif dan dinamis, selalu
berubah-ubah. Peristiwa demi peristiwa datang silih berganti.
Kehidupan ini selalu dipergilirkan dan dipergulirkan oleh yang memberi
karunia kehidupan. Kata orang, dunia ini selalu berputar bagaikan
roda pedati.
Seseorang yang menghendaki sukses yang
membahagiakan, dan bisa mempertahankannya, bukan menciptakan kondisi
eksternal di luar dirinya, tetapi yang terpenting adalah menciptakan
kondisi rohaninya yang membuatnya selalu sukses dan bahagia dalam
kondisi yang bagaimanapun. Ternyata, kebahagiaan itu bukan berbentuk
barang yang dicari di tempat tertentu. Tetapi, ketentraman itu
bersumber dari internal dirinya. Dengan meyakini dan mengamalkan
ajaran Islam, dapat menciptakan rohani yang diperlukan agar memiliki
spirit yang sama dalam menghadapi pasang surut kehidupan. Diantaranya
Istighfar (memohon kepada Allah SWT agar semakin hari ditutupi
kelemahan dan kekurangan dirinya) dan Taubat (kembali kepada
jalan-Nya).
وَأَنِ
اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم
مَّتَاعاً حَسَناً إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ
فَضْلَهُ وَإِن تَوَلَّوْاْ فَإِنِّيَ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ
كَبِيرٍ
“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu
dan bertaubat kepada-Nya. (jika kamu mengerjakan yang demikian),
niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu
sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan
kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya.
Jika kamu berpaling (tidak beristighfar dan bertaubat), maka
sesungguhnya Aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.” (QS. Hud (11) : 3).
-Istighfar
Cara
lain mencari selama adalah istighfar. Istighfar artinya memohon
kepada Allah SWT agar kelemahan dan sisi gelap serta bau tidak sedap
kita ditutupi oleh-Nya. Anjuran memperbanyak beristighfar sesungguhnya
mengajarkan kepada kita agar setiap saat terjadi peningkatan kualitas
diri kita. Baik dari sisi mental spiritual, material dan ilmu
pengetahuan. Istighfar tidak sekedar diucapkan di mulut, tetapi
terhunjam di hati dan diikuti dengan amal kebaikan yang bisa menghapus
kesalahan. Dengan memperbanyak kalimat istighfar mendidik kita untuk
selalu meluruskan dan memurnikan niat dan amal kita.
Dalam Al-Quran sering disebut kalimat istighfar, terkadang dalam redaksi perintah.
وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
"Dan mohonlah ampunan kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Muzzammil (73) : 20).
Dan sekali waktu dalam bentuk pujian kepada orang yang minta ampun.
“dan yang memohon ampun di waktu sahur [saat sebelum fajar menyingsing mendekati subuh] (QS. Ali Imran (3) : 17).
وَمَن يَعْمَلْ سُوءاً أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللّهَ يَجِدِ اللّهَ غَفُوراً رَّحِيماً
“Dan
barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya,
kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa (110).
Banyak
sekali kalimat istighfar digandeng dengan taubat, berarti istighfar
disini ungkapan untuk memohon ampun dengan lisan dan taubat, ungkapan
dari berlepas diri dari dosa dengan hati dan anggota tubuh. Hukum
istighfar seperti hukum berdoa. Jika Ia menghendaki Ia Mengabulkannya
dan mengampuni pelakunya terutama jika keluar dari hati yang tulus
mengakui dosa, atau dilakukan pada saat mustajab (terkabul), seperti
waktu sahur, selesai shalat fardhu. Dan istighfar yang terbaik adalah
dimulai dengan memuji-Nya mengakui segala dosa kemudian memohon ampun
kepada-Nya.
“Dari Abu Hurairah ra dari Nabi saw bahwa ia
bersabda : Demi Allah sesungguhnya aku sungguh mohon ampun kepada Allah
dan bertaubat kepada-Nya sebanyak 70 kali lebih dalam sehari.” (HR. Bukhari & Muslim).
Apabila
seorang hamba berharap dengan menghadirkan hati, memurnikan ketaatan
hanya kepada-Nya dan menyempurnakan syarat-syaratnya dan menghilangkan
penghalangnya, sekalipun tumpukan dosanya sepenuh langit, maka Dia
akan mengampuninya.
Al-Hasan berkata : Perbanyaklah istighfar
di rumah-rumahmu, dan diatas meja makanmu, dan dijalanmu, di pasarmu
dan di majlismu serta dimanapun kamu berada, karena sesungguhnya kamu
tidak mengetahui kapan turunnya ampunan.
Imam Qotadah
mengatakan : Sesungguhnya Al-Quran ini menunjukkan kepadamu atas
penyakitmu dan obatmu, adapun penyakitmu adalah dosa-dosa yang kamu
lakukan dan obatmu adalah istighfar.
-Taubat
Taubat
dari dosa dengan kembali kepada Yang Maha Mengetahui Yang Ghaib Dan
Maha Pengampun segala dosa adalah titik tolak para penempuh jalan menuju
Allah SWT, modal orang-orang yang sukses, tapak tilas orang yang
menghendaki keridhaan-Nya, dan kunci istiqomah bagi orang-orang yang
menyimpang, dan tempat berpijak manusia-manusia bersih dan makhluk
pilihan dan orang-orang yang dekat dengan-Nya.
Taubat adalah permulaan dan akhir perjalanan menuju-Nya.
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur (24) : 31).
Ayat
diatas turun di Madinah, diserukan oleh Allah SWT kepada ahlul iman
dan manusia pilihan-Nya untuk bertaubat setelah keimanan, kesabaran,
hijrah dan jihad mereka. Dia menggandeng kata taubat dengan al-falah
(kesuksesan di akhirat) dan menggunakan kata “la’alla”, ini berarti
mengandung pelajaran yang berharga, jika kamu bertaubat maka kamu akan
memiliki harapan untuk berhasil. Tidak mengharapkan keberhasilan
melainkan orang-orang yang bertaubat.
Orang yang menyadari
kekurangan dirinya dan menyesalinya menunggu turunnya rahmat dan orang
yang bangga dengan amal shalihnya mendatangkan kemurkaan Allah SWT,
meminjam kata bijak.Taubat adalah kembali ke jalan kebenaran dan
berlepas diri dari pengaruh orang-orang yang tersesat dan dimurkai.
Jika
dosa berhubungan dengan Allah SWT maka syarat diterimanya adalah
berlepas diri darinya, menyesalinya dan bertekat untuk tidak
mengulanginya. Adapun jika dosa menyangkut dengan orang lain maka ia
harus memperbaiki hubungan yang telah rusak dan minta maaf dan mohon
keridhaan dari kesalahan yang di perbuat kepadanya.
“Barangsiapa
yang berbuat zhalim kepada saudaranya, baik berupa harta ataupun
kehormatan (harga diri) maka hendaklah dihalalkan pada hari itu sebelum
masa dimana (tidak diperhitungkan) dinar dan dirham kecuali kebaikan
dan keburukan.” (HR. Bukhari).
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحاً
عَسَى رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ
جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ
النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ
أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا
نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Hai
orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan
nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan
menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang
mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak
menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama Dia, sedang cahaya
mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka
mengatakan: "Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan
ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. At-Tahrim (66) : 8).
[Source www.hidayatullah.com]